QR Code
MUHAMMAD ASAD AL BUGISI
MUHAMMAD ASAD AL BUGISI (1907 -1952)

Riwayat hidup

Sekitar pertengahan abad ke-19 di Sulawesi Selatan, terjadi perang saudara antar kerajaan-kerajaan yang salah satunya adalah kerajaan Wajo. Perang saudara tersebut cukup menelan banyak korban, baik jiwa maupun harta, yang kesemuanya itu mengakibatkan penderitaan rakyat. Akibat dari perang saudara tersebut nyaris keamanan tidak ada sama sekali sehingga perbuatan asusila di mana-mana terjadi, misalnya perampokan dan bahkan sampai pada pembunuhan. Selain itu, cobaan pun dari Allah di Sana sini terjadi, yaitu wabah penyakit menular mengganas sampai di desa-desa yang ada di Daerah Wajo.

Kakek Anreguratta

Semua hal yang disebutkan di atas menyebabkan penduduk Wajo banyak yang meninggalkan daerahnya untuk mencari pemukiman baru yang lebih aman dan tenteram. Di antara keluarga yang meninggalkan Wajo waktu itu ialah Guru Terru, kakek Anregurutta (K.H. Muhammad As ‘ad al- Bugisi), ia bersama keluarganya memilih Mekah sebagai tempat pengungsiannya. Sebelum Guru Terru sampai di Mekah, ia singgah di Johor, Malaysia sebab di sana sudah ada orang Bugis yang bermukim. Sesampainya di sana Guru Terru membuka lahan perkebunan yang ditanami kelapa dengan harapan hasilnya nanti dijadikan tambahan biaya ke Mekah.

Tinggal di Mekah

Di Mekah, juga sudah ada orang Wajo yang bermukim, di antaranya H. Abd. Rahman, sepupu sekali Guru Terru, Abd. Rahman yang dikenal salah seorang ulama Bugis yang tinggal di Mekah. Setibanya di Mekah, Guru Terru mendapat sambutan baik dari Abd Rahman, bahkan putri Abd Rahman, Sitti Shalihah dikawinkan dengan putra Guru Terru, Abd. Rasyid,4 dan pasangan ini dianugerahi oleh Allah SWT sembilan anak, yaitu lima putri dan empat putra yang termasuk diantaranya adalah Muhammad As’ad kecil.

Maka sebagai putri bugis, Syeikh Asd lahir di Mekkah pada tahun 1326 H/1907 M. Mula-malanya belajar pada ayahnya Syeikh H.A Rasyid, kemudian masuk madrasah al-Falah yang masyhur di Mekkah Waktu berusia 14 tahun ia telah menghafal al-Quran. Setelah belajar di Madrasah al-Falah ia kembali belajar pada ayahnya. Lalu dipelajarinya bermacam-macam ilmu agama dan bahasa Arab serta dihafalnya beberapa Matan Hadist.

Yatim Piatu di usia 17 Th

Ketika berusia 17 tahun ibu bapaknya wafat di Mekkah. Meskipun begitu ia terus belajar dan menuntut ilmu. Di antara guru-gurunya ialah Syeikh Umur Hamdan Syeikh Said al-Yamani, Syeikh Jamal al-Maliki, Syeikh Hasan al-Yamani, Syeikh Abbas al-Jabbar dan lain-lain 7 tahun lamanya ia belajar di Masjidil Haram dengan segala kesungguhan dan kerajinan yang luar biasa. Pada tahun 1927 ia pergi hijrah ke Madinah untuk ziarah ke kubur Nabi Muhammad SAW serta menantut ilmu kepada ulama Madinah, la tinggal di Madinah beberapa bulan lamanya, kemudian kembali ke Mekkah

Pulang ke Bugis

Pada tahun 1928 is pulang ke tanah aimya Indonesia, di daerah Bugis Sulawesi. Setelah sampai di kampung halamannya, Sengkang, ia membuka pesantren dan mengajarkan ilmu-ilmu yang dituntunya di Timur Tengah. Bukan main ramainya murid-murid datang berkunjung belajar di pesantren itu.

Pada mulanya ia mengajar menurut sistem halaqah di tempat tinggalnya dan di masjid. Pada tahun 1350 H/1931 Mia mendirikan madrasah di sebelah masjid Sengkang dengan bantuan pemerintah daerah dan kaum muslimin sekitarnya, dan dinamai Madrasah Wajo Tarbiyah Islamiyah (saat in disebut dengan Asadiyyah) Madrasah itu mendapat kemajuan yang pesat sekali sehingg sampai murid-muridnya beratus-ratus orang banyaknya. Madrasah itu terbagi atas beberapa tingkat: Awaliyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah. Dari madrasahnya banyak ditelurkan ulama-ulama besar dan menjadi muballigh-muballigh.

Riwayat Pendidikan

Pendidikan Informal

Pendidikan ini diperoleh melalalui keluarga, seperti halnya Syeikh Asad muda, keluarganya adalah keluarga keturunan ulama, terutama kedua Orang tuanya, maka pendidikan awal diperolehnya dari orang tuanya.yaitu:
Pertama, pada tahun 1921,M. dalam usianya 14 tahun telah selesai menghafal Al-Qur’an 30 juz, dengan lancar, sempurna .dan menguasai tata cara bacaannya setelah ia menghafalnya sejak umur 7 tahun.

Imam Masjid Al-Haram

Kedua pada usia 15-19,(1922-1926, M) tahun, belajar dengan mengusai beberapa bidang ilmu Agama, ilmu tersebut difafalnya, di antaranya: Safinah al-Najah, Zabdatul Aqaid, Jurmiyah, Ilmu Sharaf, dan Syarh Dahlan Dengan pengusaannya terhadap hafalan Qur’an tersebut, maka pada usia 14 tahun, ia mendapatkan pengakuan dari ulama-ulama dan penguasa pada saat itu, akhirnya ia dipercayakan menjadi imam shalat Tarawih di Masjid al-Haram selama tiga tahun berturut-turut, masing-masing pada tahun 1340 H,1341 H, & 1342 H.

Menghafal berbagai kitab

Ketiga pada usia 16 tahun, 1923M, ia telah menghafal al-Fiyah (seratus bait), Nahwu dan Sharaf melalui pendidikan khusus dari orang tuanya, dan bahkan pada pengajian orang tuanya yang dibuka untuk umum juga beliau selalu hadir, dan pada pesantren lainnya yang ada di Mekah. Di antara kitab yang dipelajari antara lain: Syarh Azhariyah, Syarh ibn Aqil, dan Tafsir Jalalain.

Pendidikan non formal

Pendidikan non formal , dimulai pada pada usia 17 tahun1924M), ia belajar pada salah seorang ulama Bugis, K.H. Ambo Wellang dengan menghafal beberapa matan kitab, di antaranya: Sullam Manlhiq, Manzhumat Ibn Syahniah, dan al’Nuhbah al-Ashariyah. Pada tahun itu juga diantar oleh ayahnya untuk belajar kepada dua ulama besar Mekah yaitu Syekh Abbas dan Syekh Abdul Jabbar dengan cara, selain menghadiri pengajian di Masjid al-Haram, juga dengan mendatangi rumah gurunya. Materi pelajaran yang diperoleh adalah: Tafsir Jalalain, Syarh Ibn Aqil, Syarh al- Fawaqihah, Syarh al-Baiqauniy, dan kitab Mallawi Ilmu Mantiq).

Menikah

Pada tahun yang sama Anregurutta dikawinkan dengan seorang gadis yang bernama sitti Hawan, waktu itu umur beliau 17 tahun, dari perkawinan itu ia dikarunia dua orang anak, tetapi kedua orang anak itu mendahului kedua orang
tuanya, ketika masih usia bayi. Kematian kedua anaknya merupakan pukulan batin bagi isterinya, yang menjadi penyebab bagi isterinya jatuh sakit hingga meninggal dunia. Selama hidupnya beliau kawin sebanyak empat kali. Untuk kedua kalinya beliau kawin setelah pulang ke Sengkang-Wajo,(tahun 1930) dengan seorang gadis yang bernama Syahri Banon, kemudian memperoleh seorang putra yang bernama Muhamammad Yahya, isterinya ini kemudian dicerikannya, dan pada tahun 1933, beliau kawin lagi dengan seorang wanita yang berasal dari Pancana Barru, bernama Daeng Haya, dari isterinya ini beliau danugerahi sebanyak sepuluh orang anak, lima orang putra dan lima orang putri. Dan terakhir beliau kawin dengan seorang wanita yang bernama Sitti Nuriyah, dan dari isteri yang terakhirnya tidak memperoleh anak.

Belajar pada Mallawi

Pada usia 18 tahun 1925 M), ia melanjutkan pelajarannya kepada. Mallawi (seorang Ulama Bugis) dengan mempelajari kitab: al-Fawaldhah, Syarh Mutammimah, Path al-Muin, Syarh Hikam, dan Tanwtr al-Qulub. Pada tahun itu juga, ia belajar pada Syekh Umar Hamdani (seorang ulama hadis), dengan mempelajari kitab Subul al-Salam dan Syarh Nukbah. Pada tahun yang sama, ia membelajari kitab al-Mahalli (dari seorang ulama Arab) bernama Syekh Ahmad
Nadzirin. Pada tahun itu juga, ia mempelajari kitab Mutammimah, Mukhtashar al- Ma’ani, dan Assamuni dari Syekh Jamal al-Makki. Karena belum merasa puas, pada tahun yang sama, ia bermohon diajar secara khusus (takhashshush) oleh Syekh Abram flmu Mantiq dengan kitab Isaguji, Qala Aqulu, Hidayah al-Nahw, Syarh Damhuriy dan Jauhar al-Mankuni.

Belajar pada ulama2 besar

Beliau memperoleh banyak ilmu, di kota Mekah melalui pendidkan non formal pada ulama ulama besar yang lain yang ada di kota ini. berguru kepada Syekh Umar Hamdan, Syekh Sayyid Al-Yamani, Syekh Jamal Al-Malaky, Syekh Hasan Al-Yamani, Syekh Abbas Abdul Jabbar, Syekh Ambo Wellang Al-Buqisy. Disamping itu beliau juga aktif mengikuti pesantren(pengajian halaqah) yang dilaksanakan di Mesjid Mekah, dengan penuh ketekunan, juga menghabiskan
waktunya dengan mengunjungi ulama-ulama Mekah untuk menerima ilmu pengetahuan mereka dengan mengatur waktu sepadat mungkin . Bahkan, belum puas dengan ilmu yang diperolehnya selama ini di Kota Mekah, beliau melawat lagi ke Kota Madinah. lawatannya ini mempunyai tujuan ganda,disamping menziarahi kuburan Nabi, beribadah di mesjid Nabawi, di Raudhah, menghilangkan rasa duka yang baru saja dialaaminya, dengan meninggalnya isteri dengan anaknya, juga beliau belajar pada seorang ulama besar, dan ahli Sufi, di Madinah yang bernama Sayyid Ahmad Syarif Sanusi, sekaligus menjadi sekretaris peribadi pada ulama tersebut. Dengan waktu yang relatif singkat (hanya beberapa bulan saja) Anregurutta H. Muhammad As’ad disuruh pulang ke Mekah dan mendapat izin untuk memberi fatwa-fatwa (menjadi mufti) di kota itu.

Pendidikan Formal

Seperti telah dikemukakan diatas, beliau menggeluti pendidikan informal dan non formal, dalam hari yang sama, beliau sandingkan dengan pendiikan formal. Pada usia empat belas tahun 1343 H/ 1921 M, ia masuk pada Madrasah al- Falah yaitu suatu lembaga pendidikan yang dibina oleh orang-orang India yang menyadari keterbelakangan umat Islam di Mekah dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Olehnya itu, dalam Madrasah al-Falah itu diajarkan ilmu-ilmu pengetahuan umum seperti Ilmu Bumi, Ilmu Hayat, Ilmu Alam, Ilmu Kimia, Ilmu Handasah, Ilmu Hewan, dan lain-lain sebagainya.
Begitu padatnya waktu yang digunakan menuntut ilmu, baik itu yang diperoleh melalui pendidikan informal, non formal dan formal, sehingga Beliau hampir semua waktunya tidak sepi dari membaca dan belajar, tidak diherankan
karena memang beliau senantiasa belajar siang dan malam beliau menerima pelajaran sebanyak 14 macam selama sehari semalam dari ulama-ulama Mekkah baik yang berbangsa Arab maupun ulama-ulama Indonesia yang  berdomisili di Mekkah seperti Syekh-syekh tersebut di atas.

Karya-karyanya

Selain mengajar ia juga menulis, karya-karyanya yang telah dihasilkan ialah :

  1. Idzharul haqiqah (Bahasa bugis)

  2. Kitabul Aqaid (Bahasa bugis)

  3. Sirah Nabawiyah (Bahasa Arab dan Bugis)

  4. Kitab zakat (Bahasa Bugis dan Indonesia)

  5. Ilmu Ushulil Fiqhi (Bahasa Arab)

  6. Al-Barahinul Jaliyyah dan Al-Ajwibatul Mardhiyyah, tentang wajibnya khutbah dalam bahasa Arab.

  7. Sabilus Showab.

Beliau meninggal dunia pada hari senin 12 Rabiul Awal 1372/Desember 1952 M.

 

Sumber

  1. Hamid, Salahudin, Azha, Iskandar, 100 tokoh Islam paling berpengaruh di Indonesia, Intimedia, 2023
  2. Republika online : Mujadid Muhammad As’ad al-Bugisi, Gigih Berdakwah di Tengah Umat
  3. Sabit A T, H.M., Gerakan Dakwah H. Muhammad As’ad Al-Bugisi, Disertasi Program Pasca Sarjana, UIN ALAUIDDIN, 2012

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *