
Riwayat Hidup
Dia adalah anak tertua dari delapan saudara, lahir tanggal 1 Oktober 1919 oleh pasangan Muhammad Zuhri dan Siti Saudatun. Sebuah keluarga sederhana yang tinggal di desa Kauman Sukaraja Tengah kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Ayahnya Muhammad Zuhri petani santri mewarisi garis profesi orang tuanya sendiri, haji Abdurrasyid bin haji Jakfar, kakek Saifuddin yang petani santri di kamopungnya. Adapun ibunya siti Saidatun adalah pengrajin sekaligus pedagang batik yang tergolong santri.
Cucu H Asrarudin
Ayah Saudataun mas Ammari, kakek Saifuddin dari pihak ibu, walau datang dari keluarga priyayi ia memiliki kesempatan sebagai pegawai gubernemen, lebih cenderung memilih profesi sebagai pedagang. Ibu Saudatun, eyang putri, yang bernama Siti Salbiyatun adalah puteri dari H Asraruddin, pemimpin sebuah pesantren di kebon Kapol Banyumas. Atas desakan kanjeng bupati Banyumas H Asharuddin diangkat sebagai penghulu lanrad (pengadilan negeri), juga di Banyumas. Penghulu adalah jabatan administrasi di bidang keagamaan.
Sekolah rendah
Saifuddin memang tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi, ia sempat belajar di sekolah rendah No 2 Bumiputera sampaj kelas terakhir yaitu kelas lima Hanya saja tidak terlalu jelas apakah ia mendapat sertifikat atau tidak, mungkin sekali tidak. Sebabnya pertama, sertifikat itu harus ditebus dengan uang 50 sen jumlah yang cukup besar bagi ayahnya yang pendapatannya 15 sen sehari. Namun keberatan itu tidak terlalu penting bila dibandingkan ia harus menjawab pertanyaan dari mana ia berasal, dari golongan apa ia berasal? Keturunan dari mana? Mengapa hanya karena soal sertifikat golongan seseorang dipersoalkan? Yang paling berkesan dari pendidikan di Bumiputera adalah gurunya Ndoro guru dan Ndoro mantri (kepala sekolah) karena mempunyai jam kantong, benda berharga yang hanya dimiliki orang-orang tertentu.
Pesan ibunda
Ibunya berpesan: “Serap sampai habis ilmu kyai di desa ini!” Pesan itu sangat dipatuhi oleh Saifuddin. Sementara sekolah di Bumiputera hanya dianggap nomor dua. Di sore hari ia belajar agama di sekolah Arab sebutan diniyyah saat ini, sedangkan malam harinya dipakai untuk mengaji. Mula-mula ayahnya sendiri kemudian di pesanten-pesantren yang ada di sekitarnya.
Dalam usia 13-14 tahun ia telah menamatkan al-Quran dan sejumlah kitab a.l. Sofinatunnajah, Al-Jurmiyah, Qatrul Ghaits, dan Taklimul Mutuallim. Sewaktu duduk di SD kelas III di Sukaraja Wetan 10 km dari rumahnya didirikan madrasah al-Huda NU yang dipimpin oleh ustadz Mursyid, seorang kyai muda aval Solo, yang diakui sangat dikaguminya, biasanya pulang sekolah jam 12. shalat dhuhur sorenya ia memotong rumput untuk kuda yang dipukainya belajar ke ustadz Mursyid. Ustadz ini menguasai Tafsir al-Baidhowi, Hadis Bukhari, Ihya Ulumiddin dan Tasawuf al-Hikam.
6 bulan di Al Huda
Tahun 1929 ia mendaftar ke Al-Huda, saat itu tempat belajarnya hanya langgar milik penduduk. Baru kemudian masyarakat bergotong royong membangun gedung. Dari sini ia belajar bahasa Arab dan Jawa. Antara guru dan murid wajib berbahasa Arab. Diajarkan pula, Nahwu Shorof, fiqih, tauhid keimanan. rafsir haditrs dan olahraga. Di sekolah ini juga diajarkan kursus bahasa Belanda dengan bayaran agak tinggi dengan bayaran 100 sen perbulan. Karena mahal Saifuddin hanya mengikuti selama enam bulan saja.
Belajar di Mabaul Ulumn
Banyak yang diperolehnya tidak hanya sekedar masalah agama, tetapi juga ia mengetahui keterampilan: pencak silat, pidato, bengkel sepeda jahit menjahit gunting rambut membuat letter, mengetik dan stensil dengan bahan agar-agar. Setelah itu ia merantau ke Solo tahun 1937, untuk melanjutkan ke Mambaul Ulumn, madrasah ini diasuh dengan bantuan dari Keraton Solo. Kemudian ia pindah ke madrasah Salafiyah, madrasah modem dengan pengantar bahasa Arab ala Mesir, disini ia ditinggal di kelas III juga, inipun dijalaninya hanya sebulan dan pindah ke madrasah al-Islam. Di Madrasah inilah ia merasa betah karena di siang hari ia bisa bekerja. Pimpinan sekolah ini Kyai Ghazali mempunyai semangat pembaharuan. Walaupun beraliran tajdid tetapi ia tetap menggunakan kitab kuning yaitu Tafsir Jalalain dan Fathul Muin. Setelah belajar 4 bulan ia ikut ujian akhir dan mendapat ijazah Tsanawiyah.
Karir dan Prestasi
Kiprah Saifuddin Zuhri mulai terlihat sejak mudanya di bidang jurnalistik. Ia memulai karirnya dari dunia jurnalistik. Dari situlah ia mulai menulis karya- karyanya ke berbagai media massa nasional maupun media NU.
Dalam organisasi ia mulai terlibat dalam gerakan Ansor NU, yang kemudian dihapuskan dan diganti oleh penjajah Jepang dengan Keibodan dan Seinendan Namun Saifuddin tetap melanjutkan kegiatan Anshor sehingga ia dipanggil oleh resimen Jepang.
Duta besar Saudi Arabia
Saifuddin Zuhri memulai debutnya pada tahun ketika presiden Soekarno memilihnya untuk menjadi duta besar Saudi Arabia, Sebelumnya ia telah menjadi anggota DPR GR dan dari lembaga itu ia dapat berinteraksi dengan dunia luar. Pemilihannya sebagai menteri agama juga mempunyai sejarah akibat kejadian interpelasi Simorangkir atas kebijakan menteri agama menutup gereja di Meulaboh Aceh karena tidak sesuai dengan toleransi agama.
Sebelumnya ia telah mengadakan pendekatan kepada pihak fraksi katolik kristen untuk tidak perlu mengajukan interpelasi karena sama sekali tidak menguntungkan. Tetapi kelompok penganjur interpelasi seperti, JCT Simorangkir, Sabam Sirait, dan lain-lain tetap bersikukukuh pada pendiriannya. Akhirnya, ia menghadapi interpelasi tersebut dan berhasil menyelesaikan persoalan tersebut dan tidak menimbulkan gejolak politik. (Azra, ed.:).
Sumber :
- Hamid, Shalahuddin, Ahza, Iskandar, 100 tokoh Islam paling berpengaruh di Indonesia, Intimedia, 2003