QR Code
KH HASYIM ASYARI (1871-1947M)

Riwayat Hidup

KH. Hasyim Asyàri, lahir pada tanggal 14 Pebruari 1871, bertepatan dengan tanggal 24 Dzulqidah 1287 H. di desa Gedang. 2 km sebelah utara kota Jombang, Jawa Timur, nama kecilnya adalah Muhammad Hasyim. Ayahnya bernama Kyai Asyari. berasal dari Demak, Jawa Tengah, pengasuh dan pendiri Keras Jombang (sekarang Al-Asyariyah). Ibunya bernama Halimah. M. Hasyim adalah putra ketiga dan sebelas saudara. Sejak kecil Muhammad Hasyim hidup /mukim di pesantren Gedang yang diasuh oleh kakeknya. Kyai Usman. Dari garis Ibunya (Nyai Halimah) M. Hasyim, selain keturunan pemimpin agama, ia juga “berdarah biru”.

Prabu Brawijaya

Silsilah KH. Hasyim Asyàri berasal dari keturunan ningrat dan ulama. Garis keturunan ini bila ditelusuri sebagai berikut: Muhammad Hasyim bin Halimah binti Layyinah binti Soihah bin Abdul Jabar bin Ahmad bin Pangeran Sambo bin Pangeran Benowo bin Joko Tingkir (Mas Kerebet) bin Prabu Brawijaya Sedangkan dari garis bapak, sampai pada keluarga Ahlu Syaiban yang berasal dari keturunan para bangsawan Arab yang datang ke Indonesia pada abad ke-4 H untuk menyebarkan Islam ke Asia Selatan dan mendirikan pusat dakwah Islam dan kesultanan-kesultanan Ahlu Adhamah Khan Mereka adalah keturunan Imam Jafar Shodiq bin Imam Muhammad Baqir (Chairul Anam, 1985: 56-57: Muhammad Asad Syihab, 1994:27).

Pernikahan I & ke Mekkah

Pada usia 21 tahun Hasyim Asyari menikah dengan putri Kyai Yakub pengasuh pesantren Siwalan, Panji Sidoarjo. Setelah menikah mereka berangkat haji dan bermukim disana. Namun perkawinan dengan anak gadis gurunya itu tidak berlangsung lama karena sang Istri meninggal dunia ketika melahirkan putra pertamanya, saat mereka mukim di Mekkah. Bayinya juga menyusul ibunya setelah 40 hari kemudian. Muhammad Hasyim kemudian di jemput oleh mertuanya untuk pulang ke Jawa Timur, namun tiga bulan kemudian ia kembali lagi ke Mekkah untuk meneruskan mendalami ilmu agama. Setelah belajar di Mekkah selama tujuh tahun. Muhammad Hasyim kembali ke kampung halamannya pada akhir 1899 M. Kemudian ta mendirikan pesantren Tebu Ireng di Jombang, Jawa Timur.

Musibah

Hidup perkawinan Hasyim Asyari selalu dirundung musibah, selama tujuh kali perkawinannya selalu berakhir dengan cerai mati. Namun berbagai duka yang menimpanya, tidak membuat Hasyim putus asa dan menjadi penghalang untuk terus berjuang demi bangsa dan agamanya. KH. Hasyim Asyàri, selain sebagai ulama besar juga pahlawan bangsa. Semangat kepahlawanannya tidak pernah surut, bahkan beberapakali beliau memberikan nasehat kepada Bung Tomo dan Panglima Soedirman yang datang ke Tebuireng. melaporkan tentang perkembangan agresi militer Belanda yang saat itu sudah memasuki Singosari, Malang.

Latar Belakang Pendidikan  & Profesi

Sejak kanak-kanak. Hasyim dikenal sangat cerdas dan rajin belajar. la mula- mula belajar agama dengan ayahnya, yaitu belajar ilmu tauhid, fiqih, tafsir dan bahasa Arab. Karena kecerdasannya, maka dalam usia 13 tahun. Hasyim sudah menguasai materi pelajaran yang diajarkan oleh guru dan ayahnya serta mula membantu ayahnya mengajar para santri yang lebih senior.

Kyai Yakub Purbolinggo

Rasa dahaga akan ilmu pengetahuan, membuat Hasyim menjadi seorang pengelana ilmu, karena itulah selama dua tahun ia belajar dari pondok ke pondok pesantren lainnya. Mula-mula ia ke pondok pesantren Wonokoyo, Purbolinggo. kemudian ke pesantren Plangitan Tuban (sekarang Langitan), pesantren Trenggilis pesantren Kademangan, Bangkalan Madura, dan akhirnya ke pondok pesantren Siwalan, Panji, Sidoardjo, yang di pimpin oleh Kyai Yakub. Di pondok Siwalan inilah ia belajar berbagai ilmu pengetahuan agama dengan tekun selama lima tahun, K.H. Yakub sangat tertarik dengan kecerdasannya dan sang mendapatkan firasat bahwa Hasyim kelak akan menjadi seorang pemimpin beser yang sangat berpengaruh. Karena itulah akhirnya Kyai Yakub menjadikan Hasyim Asy’ari sebagai menantunya (Chairul Anam, 1985:; 58-59). Akhirnya, Hasyim menikah dengan Khadijah, puteri Kyai tersebut.

Kembali ke Mekkah

Setelah menikah Kiyai Yakub mengajak Hasyim dan istrinya pergi haji ke Mekkah. Setelah menunaikan ibadah haji, Kyai Yakub memeritahkan anak dan menantunya tersebutagar tetap bermukim di Mekkah untuk menuntut ilmu. Ada anggapan saat itu bahwa seorang ulama, siapapun jaga jika belum belajar di Mekkah selama bertahun-tahun, belum dianggap cukup ilmunya. Karena itulah Hayyim mulai belajar menekuni ilmu fiqih mazhab Syafi’i dan ilmu hadits kitab Bukhari Muslim dibawah bimbingan guru-guru terkenal, seperti Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syeikh Nawawi al-Bantani dan Syeikh Mahfudz Termas.

Ketiga gurunya itu adalah ulama besar terkemuka di Mekkah, sejajar dengan nama besar Muhammad Abduh, yang kala itu sedang giat-giatnya melancarkan paham pembaruan Islam Tujuh bulan setelah bermukim di Mekkah. Istrinya meninggal dunia ketika melahirkan, demikian pula anaknya. Muhammad Hasyim sangat sedih sekali, untuk mengurangi kesedihannya ia thawaf mengelilingi Kübah (Basit Adnan, 1982: 32). Hasyim sempat pulang ke Tanah Air. namun kemudian kembali lagi ke Mekkah untuk meneruskan belajarnya.

Syekh Mahfudz Termas

Dari ketiga ulama besar yang paling berpengaruh pada diri Muhammad Hasyim adalah Syeikh Mahfudz at-Tarmidzi, guru besar di Masjidil Haram, yang juga berasal dari Termas Jawa Timur, sehingga dikenal pula dengan Syeikh Mahfudz Termas. Syeikh Mahfudz mengajar ilmu hadits Shahih Bukhari.  Mohammad Hasyim adalah murid kesayangannya, sehingga Hasyim juga dikenal sebagai ahli hadits dan memperoleh ijazah sebagai pengajar Shahih Bukhari.

Muhammad Abduh

Sebagaimana pandangan gurunya. KH. Hasyim Asyari secara tegas mempertahankan ajaran-ajaran mazhab dan memandang penting praktik-praktik tharekat. Mohammad Hasyim juga menerima pikiran modernis dari Muhammad Abduh guna membangkitkan kembali semangat Islam. Namun ia kurang sependapat dengan Muhammad Abduh soal “melepaskan keterikatan” dengan mazhab dalam memahami Islam. Begitu juga dengan praktik-praktik keagamaan. Ia tidak menganggapnya sebagai bentuk kesalahan dan menyimpang dari ajaran Islam seperti anggapan Muhammad Abduh.

Dalam konteks inilah, Choirul Anam (1985: 60-61) menilai KH Hasyim Asyari berbeda dengan Muhammad Abduh. Menurut KH. Hasyim Asyari penguasaan mazhah adalah sesuatu yang prinsipil, guna memahami maksud sebenarnya dari al-Quran dan hadits. Tanpa mempelajari pendapat ulama besar Khususnya Imam Empat yaitu Imam Syafi’i Imam Maliki. Imam Hanafi dan Imam Hambali, hanya akan melahirkan pemutarbalikan pengertian dan ajaran Islam itu sendiri.

Muqqadimah Qanun Asasi

Choinal Anam dengan penilaiannya itu mencoba menegaskan keteguhan pendirian KH Hasyim Asyari, yang kemudian menjadi landasan sikap tradisi pemahaman keagamam NU pernah juga disampaikan KH Hasyim Asyan hadapan para ulama peserta Muktamar NU ke 3 September 1928 yang dikenal dengan “Muqqadimah Qanun Asasi” Nahdlatul Ulama (Pembukaan Anggara Dasar Nahdlatul Ulama). Ketika itu Kyai Hasyim berkata:

Hai Para ulama dan pemimpin yang takut kepada Allah, kalian sudah menuntut ilmu agama dari orang-orang yang hidup sebelum kalian dan begitu pula gencrass sebelumnya dengan bersambung sanadnya sampar pada kalian, dan kalian harus melihat dari siapa kalian mencari ilmu atau menuntut ilmu agama. Berhubungan dengan caranya menuntut ilmu pengetahuan demikian itu, maka kalian menjadi pemegang kuncinya. bahkan menjadi pintu-pintu gerbangnya ilmu pengetahuan agama. Oleh karena itu janganlah memasuki suatu rumah kecuali melalui pintunya, Stapa saja yang memasuki rumah tidak melalui pintunya maka “pencurilah” namanya.

Ahlussunnah Wajmaah

Penggunaan sistem mazhab dalam praktik keagamaan tetap dipertahankan oleh KH. Hasyim Asyari, kendati ketika itu di Mekkah Muhammad Abduh sangat gencar melancarkan ide-ide pembaruan Islam yang banyak mempengaruhi para mahasiswa di Masjidil Haram. Semangat pembaruan itu terkesan tidak sejalan dengan semangat perlunya bermazhab yang kemudian dikembangkan oleh KH Hasyim Asyari setelah pulang ke tanah air. Karena itulah ketika kembali dari Mekkah, Kyai Hasyim melalui pesantren Tebuireng dan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama berusaha untuk terus mengembangkan paham Islam ala “Ahlussunnah waljamaah” yang mengakui mazhab empat (Imam Syafi’i. Imam Hanafi, Imam Hambali dan Imam Maiki). Dalam konteks itulah, maka Muhammadiyah menyatakan bahwa kehadiran NU adalah sebagai reaksi terhadap berdirinya gerakan Islam reformis di Indonesia (Musthofa Kamal Pasha dkk 1976 23). yang diperjuangkan oleh Jamaluddin al Afghani, Muhammad Abduh dan Rashid Ridha.

Adanya perbedaan pemahaman keislaman antara kaum modernis dan tradisionalis sebenarnya sisi lain dari paradigma pemahaman Islam saja. Kalangan Islam modernis seperti Muhammadiyah memahami Islam dari atas mulai dari al- Quran, Hadits, Ijmak, Qiyas, dsnya, sedangkan kalangan Islam tradisional NU sebaliknya, dan bawah yaitu mulai dari kitab fiqih/kitab kuning, qiyas, ijma, hadist dan Al-Quran.

Kaum Modernis

Karena perbedaaan cara pandang tersebut kaum modernis lebih leluasa dalam melakukan ijtihad dari ajaran pokoknya yang memiliki kebenaran mutlak (al-Quran) sedangkan kelompok tradisionalis agak kesulitan terutama dalam merespons paham pembaruan yang digagas oleh Jamaluddin al-Afghani, pala awal abad ke-20, karena sumber prioritas ajaran yang digunakan bukan pokok (cabang), melainkan hasil ijtihad juga.

Kaum tradisional

Selama ini kaum ulama tradisional terkesan menjadikan soal furu’ sebagai ajaran pokok yang mutlak kebenarannya. Sementara Harun Nasution (1979: 113) memandang bahwa ajaran cabang yang merupakan turunan (tafsir) darı ajaran pokok (al-Quran) tidak memiliki sifat kebenaran mutlak, artinya bisa benar bisa juga salah. Karena pemikiran-pemikiran itu hasil akal para mujtahid yang tidak bersifat maksum (tak dapat berbuat salah), sehingga interpretasi ulama tidak memiliki “sifat mutlak”. Atas dasar itulah maka para imam besarpun tidak mau menyalahkan pendapat atau penafsiran rekannya, selama hal itu tidak bertentangan dengan ajaran al-Quran dan hadits.

Upaya merespon pembaruan Islam dikalangan NU mulai dirintis tahun 1988. Pada Forum Muzakarah NU, menegaskan perlunya re-orientasi dan reinterpretasi pemahaman kitab kuning (kitab klasik). Pemahaman kitab kuning tidak hanya dipahami secara tekstual seperti yang berlangsung sebelumnya, melainkan perlu dijabarkan secara kontekstual sesuai tuntutan situasi zaman.

Manhaji (Metodologis)

Demikian pula tahun 1990 di Jombang, ulama NU menandaskan pentingnya bermazhab secara metodologis (manhaji) disamping mengikuti produk atau penetapan hukum yang telah ditentukan oleh imam mujtahid mutlak (Mazhab empat). Maksud dari bermazhab secara manhaj yaitu mengikuti jalan pikiran dan kaidah penetapan hukum yang telah disusun oleh imam Mazhab. dengan kata lain mengikuti metodologi pemikiran tradisional yang telah baku (ushulul figh). Tidak sekedar mengikuti ketentuan (aqwal) hukum yang ada, melainkan berusaha memahami semangat yang terkandung dalam metodologi tersebut. Melalui re- orientasi kitab kuning dan cara bermazhab secara metodologis (manhaj) ini NU mendapat akses untuk melakukan istinbat hukum guna memasuki pintu ijtihad yang selama ini terkesan tertutup dan kurang mendapat perhatian. Melalui cara pendekatan tersebut NU mampu merespon pembaruan Islam “dari bawah” yaitu melalui pendekatan fiqih sosial yang orientasinya mengacu pada peningkatan peran sosial politik ulama.

Fiqih Sosial

Paradigma fiqih sosial ini didasarkan kepada;  Pertama: Selalu diupayakan reinterpretasi terhadap teks-teks fiqih untuk mencari konteksnya yang baru. Kedua: Makna bermazhab berubah dari bermazhab secara tekstual (gaul kepada bermazhab secara metodologis (manhaj). Ketiga. Melakukan verifikasi mendasar terhadap ajaran yang pokok (ushul) dan cabang (furu). Keempat, fiqh hadirkan sebagai etika sosial, bukan sebagai hukum positif negara. Kelima mengenalkan metodologi pemikiran filosofis, terutama dalam masalah budaya dan Sosial. Butir-butir pemikiran tersebut telah dibahas dalam Munas alim ulama NU tahun 1992.

Kelas Musyawarah

Dalam praktiknya tradisi kajian-kajian keislaman tentang fiqih (bahtsul masail) telah dilakukan NU sejak bedirinya tahun 1926 sampai sekarang. Melalui media tersebut, Kyai Hasyim merambah jalan untuk mengembangkan masyarakat dengan merintis “kelas musyawarah” sebagai kegiatan rutin bagi santri senior di Tebuireng, kemudian diteruskan oleh Kyai Wahab Hasbullah yang membuka forum diskusi dan kursus masalah keagamaan, sehingga melahirkan forum bahtsul masail.

Kiprah dan Perjuangannya

Perkembangan Pesantren Tebuireng

Setelah tiga bulan pulang belajar dari Mekkah, KH. Hasyim Asyari segera mengabdikan ilmunya untuk kepentingan umat. Mula-mula ia membantu mengajar di pesantren ayahnya Gedang. Namun ia merasa tidak leluasa untuk mengembangkan ilmu yang didapatnya selama belajar di Mekkah, KH. Hasyim Asyari kemudian berusaha mendirikan pesantren sendiri, maka pada 26 Rabiul Awal bertepatan dengan 1899 M, ia mulai merintis pendirian pesantren yang diben nama Tebuireng di Jombang.

Muasal Tebuireng

Tebuireng menurut cerita rakyat berasal dari “Kebo Ireng”, yaitu ketika seekor kerbau bule terperosok kedalam payak yang dipenuhi oleh lintah. Saat kerbau itu ditarik keluar oleh penduduk warnanya berubah menjadi hitam, karena seluruh tubuhnya dipenuhi oleh lintah dan pemilikya kemudiannya berteriak dengan menyebutnya Kebo Item. Dan menurut versi lain dinamakan Tebuireng karena daerah tersebut tempat tinggalnya orang-orang dari kalangan hitam, yang berperilaku tidak baik seperti perampok, pencuri, peminum, penjudi dan penzina. Namun karena daerah tersebut juga banyak terdapat tanaman tebu yang berwamu hitam, maka berubah menjadi nama “Tebu Ireng” (Basit Adnan. 1982 32).

Bromocorah

Kondisi daerah Jombang yang demikian buruk tersebut menjadi tantangan sekaligus dorongan KH Hasyim Asyari untuk membina masyarakat melain didikan pesantren, dalam rangka menebarkan kebenaran walaupun banyak teman-teman Kyai Hasyim Asyan yang mengkritik keberaniannya tersebut. Mula-mula muridya hanya delapan orang, kemudian menjadi dua puluh delapan orang yang tinggal di atas barak-barak dari bambu. Kondisi Tebuireng yang tidak aman membuat para santri tidak hanya belajar ilmu agama, namun juga belajar ilmu bela diri. Gangguan keamanan tersebut selain dari para penjahat yang bermukim di sekitar Tebuireng juga berasal dari para bromocorah yang disewa Belanda untuk menghancurkan Tebuireng. Sejak semula ketika KH. Hasyim Asyari mendirikan Tebuireng pihak kolonial Belanda mencurigai KH. Hasyim tidak hanya sekedar mengajarkan agama melainkan juga mengarah pada perjuangan politis untuk kemerdekaan Indonesia, yang berarti melawan Belanda. Karena gangguan itulah ketika malam tiba santri harus tidur berkelompok di tengah-tengah barak, agar tidak menjadi sasaran tusukan para penjahat (Maksoem Mahfudz, 1986).

Supaya proses belajar mengajar tidak terganggu, maka untuk membantunya dalam menghadapi para bromocorah tersebut KH Hasyim Asyari meminta bantuan teman-temannya dari Cirebon, yaitu: Kyai Abdul Jamil, kyai Syamsuri, kyai Shaleh dan kyai Abdullah. Setelah dua setengah tahun gangguan itu baru bisa dihilangkan.

Sorogan & Weton

Metode pengajaran yang digunakan di Tebuireng sebagaimana pola pesantren tradisional lainnya menggunakan metode sorogan dan weton. Metode in biasanya diberikan pada tingkat pelajaran rendah, yaitu santri menghadap guru seorang demi seorang dengan menyodorkan (sorog) kitabnya masing-masing. kemudian asisten kyai membaca beberapa kalimat dan menerangkan maksudnya. Para santri menyimak kitabnya masing-masing. Kadangkala memberikan tanda- tanda atau catatan yang baru dipahaminya (ngesahi). Kemajuan para santri dalam membahas pelajarannya antara lain dapat dilihat dari tanda-tanda pada kata-kata atau pengesahan dalam kitabnya. Pada tingkat lanjutan pelajaran biasanya diberikan Langsung oleh Kyai Hasyim sendiri dengan metode kuliah (weton), sesekali santri yang membaca kitab, bila salah Kyai Hasyim membetulkannya. Kenaikan tingkat ditandai dengan bergantinya kitab yang dipelajarinya.

Salafiyah Syafiiyah

Dalam mengikuti pelajaran santri mempunyai kebebasan penuh. bebas dalam belajar dan memilih pelajaran bahkan bebas untuk tidak belajar. Menyadari hal ini KH. Hasyim yang telah berpengalaman di pesantren tergugah hatinya untuk menambah pondok pesantren dengan sistem madrasah atau sistem klasikal seperti yang pernah dilihatnya di Mekkah (Heru Sukardi, 1980-57). Maka pada tahun 1919 di dalam lingkungan pondok pesantren Tebuireng muncullah sebuah madrasah dengan sistem klasikal atau sistem (nizam), madrasah itu diberi nama Salafiyah Syafiiyah. Pola pendidikan yang dikembangkan oleh KH Hasyim Asyari berhasil menarik simpati masyarakat dan berhasil mendidik para santri Tebuireng, sehingga akhirnya menjadi pesantren besar dan banyak siswanya dari berbagai daerah yang belajar disana, dan menjadi pondok pesantren terbesar di Indonesia.

Waaz dan Irsyad

Basit Adnan (1982 33) menggambarkan proses belajar mengajar KH Hasyim Asyari dilakukan dengan cara lemah lembut dan penuh keikhlasan Sehab menurut keyakinannya, pelajaran yang disampaikan dengan cinta kasih yang mendalam akan selalu membekas di hati. Yaitu dengan cara pendekatan tidak banyak mencela tetapi selalu berbuat dan membela kebenaran, tidak hanya mengeritik namun selalu menganjurkan contoh yang baik yaitu membaca dan belajar. Pola pendidikan dan pengajaran tersebut pada dasarnya sejalan dengan pola yang diajarkan Rasulullah yaitu Waaz dan Irsyad (memberikan contoh dan mendidik). Sebagai seorang ulama, KH. Hasyim Asyari tidak hanya mampu bicara tentang kebaikan, melainkan beliau juga memberikan contoh perilaku (keteladanan) yang baik pula.

Orang Timur memang memiliki sifat yang lemah lembut, mereka lebih suka mendengar pujian dari pada cacian, karena itulah KH Hasyim Asyàri sebagai seorang pendidik menggunakan “siasat” itu untuk menghadapi masyarakat dan santrinya. Karena pedekatan yang penuh cinta dan kasih sayang itulah maka proses pendidikan dan dakwah yang dikembangkan oleh beliau berhasil dengan baik desa yang semula penduduknya “rusak” menjadi aman dan tentram, sehingga Tebuireng menjadi perhatian banyak pihak baik di Jawa maupun dari luar Jawa.

Kedisiplinan KH Hasyim Asyari

Heru Sukardi (1980: 50-51) menceritakan secara detil mengenai keberhasilan itu KH. Hasyim Asyàri yang disiplin terhadap waktu, ulet dan kerja keras. KH Hasyim Asyari selalu bekerja dengan tertib dan teratur. Setiap harinya ia memulai pekerjaannya pada pukul 06.00 pagi yaitu setelah kembali dari masjid dengan memberikan penugasan kepada para pekerja yang telah menanti dirumahnya. Pukul 06.30 Kyai Hasyim mengajar untuk santri yang lanjut usia hingga pukul 10.00 dengan istirahat setengah jam (08.00-08.30). Setelah itu KH Hasyim mengerjakan pekerjaan lainnya, seperti ke sawah, menerima tam membaca, mengarang dan lain-lain. Pukul 11.30 ia tidur sebentar dan pukul 12 shalat zuhur di masjid Pukul 13-30 mulai mengajar lagi di masjid hingga pukul 15.30. Setelah itu ia memeriksa hasil-hasil pekerjaan kulinya. Pukul 16.00 shalat Ashar dan setelah itu mengajar lagi di masjid hingga pukul 17.30.Sambil menunggu waktu maghrib KH. Hasyim menelaah beberapa kitab. Selesai shalat maghrib biasanya ia menerima tamu dari para wali murid yang datang dari dari pelosok Tanah Air. Selesai shalat Isya, mengajar lagi hingga pukul 23.00 setelah itu baru KH Hasyim makan malam.

Pada siang hari KH Hasyim jarang makan, walaupun dalam keadaan tidak puasa. Kecuali untuk menghormati tamu, bila berkunjung ke Tebuireng. Pukul 01.00 malam barulah ia tidur dan pukul 3.30 menjelang subuh ia bangun untuk shalat malam dan membaca al-Quran menantikan shalat subuh. Rutinitas inilah yang dilalui oleh KH Hasyim setiap harinya.

Namun pada hari Selasa dan Jumat sebagai hari istirahat mengajar, digunakannya untuk untuk memeriksa sawahnya di desa Jombok yang terletak di sebelah selatan desa Tebuireng yang jauhnya kira-kira 10 km.

Hadratus Syeikh

Selain sebagai pendidik, KH. Hasyim Asyari juga adalah seorang ulama besar, pengetahuannya tentang agama (khususnya kitab Bukhari Muslim) sangat mendalam, sehingga KH. Hasyim Asyàri menjadi tempat bertanya, tidak hanya para santri tapi juga para ulama, sehingga pada tahun 1920 beliau mendapat gelar “Hadratus Syeikh” dari para ulama, yang artinya maha guru sebagai suatu penghormatan atas kedalaman ilmu agamanya.

Dalam kapasitasnya sebagai ulama KH. Hasyim selalu memberikan pengajian dalam bentuk kuliah umum satu jam sebelum dan setelah shalat wajib. yang selalu diikuti oleh seluruh para santri. Pada bulan Ramadhan, KH. Hasyim Asyari, yang memiliki spesialisasi dalam “fan” ilmu hadits, juga memberikan kuliah istimewa khusus mengenai hadits shahih Bukhari dan Muslim. Kedua kitab hadits ini harus di “khatam”kan oleh para santri atau tamat pada bulan Ramadhan yang biasanya dimulai lima hari sebelum Ramadhan dan selesai lima hari menjelang Idul Fitri. Peserta pengajian hadits Bukhari Muslim ini biasanya diikuti oleh para santri yang berada di pelosok pulau Jawa atau santri yang pernah mondok di Tebuireng (Heru Sukardi 1980: 54-55).

Al-Azhar Mesir

Pelajaran dan pengajian yang dilakukan secara tertib dan terarah, membuat banyak orang menyebut Tebuireng sebagai miniatur dari universitas Al-Azhar Mesir. Pesantren Tebuireng yang dikembangkan oleh KH. Hasyim ini berhasil menarik simpati masyarakat untuk menimba ilmu dan keberadaan Tebuireng pun sempat diakui oleh pemerintah kolonial Belanda pada tanggal 6 Pebruari 1906 Bahkan pesantren di Banten, menurut Saifuddin Zuhri, mensyaratkan kepada ulamanya untuk belajar di Tebuireng.

Perhatian pada Santri

KH Hasyim Asyari sangat perhatian terhadap para santrinya, bahkan para sanini dianggapnya sebagai keluarga sendiri, tidak sekedar hubungan antara kyai dan murid saja, sehingga para santri merasa hormat kepada KH. Hasyim seperti terhadap orang tuanya sendiri (Maksoem Mahfudz 53). Santri yang tidak mampu. diangkatnya sebagai pembantu rumah tangga ataupun mengurus delman dan Kudanya. Ada pula santri yang ditugaskan ke sawah dan mengisi tempat wudlu di masjid sehingga santri tetap bisa belajar.

Berdikari

Meskipun telah mendapat pengakuan dan pemerintah Belanda, namun KH Hasyim tetap berpegang pada prinsip “Al-I’timad ala nafsi” (prinsip bendikari) tidak menggantungkan diri pada bantuan dana dari orang lain untuk mengelola Tebuireng, apalagi dari kolonial Belanda. Bahkan KH Hasyim Asyari lebih banyak memberi dan pada mengambil keuntungan maten dan pesantren yang dikelolanya dengan kata lain ia mengajar tanpa menerima dan mengharapkan upah dari para santri-santrinya. Karena upah yang diharap hanya dari Allah SWT. seperti pendirian yang telah dicontohkan oleh para Nabi dan Rasul:

Dan saya tidak menerima upah atas usaha ini. Tak adalah upah sava selain dari Tuhan yang menjaga sekalian alani” (QS. asy-Suara 109).

Karena itulah untuk membiayai hidup KH Hasyim berusaha sendiri dengan mengelola sawah, bertani dan berniaga, bahkan sebagian hasilnya digunakan untuk biaya operasional sehari-hari pesantren Tebuireng.

KH Ilyas Ruhiyat

Perkembangan sistem pendidikan di Tebuireng mulai nampak setelah KH Hasyim Asyari pada tahun 1929 menunjuk M. Ilyas (KH. Ilyas Ruhiyat mantan menteri agama RI lulusan pesantren Tebuireng dan lulusan HIS tahun 1926), sebagai kepala madrasah salafiyah Tebuireng. Sejak itu surat kabar dan majalah-majalah yang berisi ilmu pengetahuan umum yang ditulis dengan huruf latin (bahasa Indonesia) mulai dibaca oleh para santri. Kemudian di masukan pelajaran umum, membaca dan menulis huruf latin, bahasa Indonesia, ilmu bumi, sejarah Indonesia, ilmu berhitung yang memakai bahasa Indonesia, kecuali sejarah Islam yang hingga kini masih dipelajari dengan huruf Arab.

Perubahan kurikulum yang menggabungkan tradisi pesantren dan ilmu umum ini mendapat persetujuan KH Hasyim Asyari. Sedangkan untuk percakapan sehari-hari di pondok para santri wajib menggunakan bahasa Arab.

Akibat pembaruan sistem pendidikan tersebut membuat sebagian para orangtua santri sempat melarang anaknya untuk mondok di Tebuireng dan pindah ke pesantren lain. Pelajaran umum dianggap bidah pada waktu itu. Namun KH Hasyim dan M. Ilyas tetap menjalankan sistem pendidikan tersebut. Hasil perubahan kurikulum tersebut baru dirasakan puluhan tahun kemudian, terutama pada masa pendudukan Jepang, yang melarang surat menyurat selain dengan huruf latin, sehingga menurut Heru Sukardi (1980: 60-61), banyak ulama Tebuireng yang mampu membaca dan menulis huruf latin terpilih menjadi anggota Sana Kai (Dewan Permusyawaratan Daerah Keresidenan).

Kitab Adab Al Alim Al Mutaalim

Salah satu konsep pendidikan yang dikembungkan oleh KH Hasyim Asyari dalam proses belajar mengajar terhadap santrinya agar proses pendidikkan berjalan degan baik yaitu melalui pendekatan etika dan akhlak guru dan sang disusun beliau dalam kitab “Adab al Alim al-Mutaalim”. Kitan yang sebagian besar berisi tentang perilaku murid terhadap dirinya, terhadap gurunya dan perilaku murid terhadap pelajarannya. Disamping itu pula kitab tersebut membicarakan bagaimana perilaku guru terhadap dirinya (hak-haknya) pelak terhadap pelajarannya dan perilaku guru terhadap muridnya. Ajaran dalam kitab ini kemudian menjadi “standard moral” santri di pesantren tradisional (salaf) di Jawa hingga sekarang.

Sebagai sebuah institusi pendidikan tradisional. Tebuireng berhasil memadukan tradisi pesantren dan perkembangan ilmu pengetahuan umum. Walaupun KH Hasyim Asyari, sangat kokoh berpegang pada kitab karangan ulama salaf. namun pikirannya cukup maju dan mampu menjaga keseimbangan dalam masalah dunia dan akherat, dengan menjaga dan memelihara nilai-nilai lama yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik (Almuhafazatu alal qodimis shalih wal-akhdzu bil-jadidil ashlah). Dengan prinsip itulah Tebuireng telah berhasil menciptakan kader ulama dan santri-santri berkualitas yang menguasa ilmu Islam secara mendalam sesuai dengan paham mazhab empat dan paham ahlussunnah waljamaah. Setelah selesai belajar di Tebuireng, para santri banyak yang mendirikan pesantren baru atau mengajar ilmu agama di pondok-pondok yang tersebar di pulau Jawa. Karenanya banyak pesantren dan para Kyai di pulau Jawa hampir seluruhnya pernah belajar di Tebuireng.

Pesantren besar

Besarnya pengaruh Tebuireng dan kiprah dari para ulamanya, telah membuat pemerintah Jepang mendata jumlah Kyai/ulama yang ada di Jawa khususnya di Tebuireng. Dari hasil pendataan yang dilakukan oleh Sambu Beppang  (Gestapo Jepang) pada tahun 1942, terdapat dua puluh lima ribu kyai/ulama kesemuanya produk Tebuireng. Data itu menunjukkan betapa besar peran dan pengaruh KH. Hasyim Asyari dalam mencetak kader ulama untuk pengembangan dan penyebaran ajaran Islam di Jawa pada awal abad 20.

Tradisi NU

Untuk bisa dipanggil ulama atau kyai dalam tradisi NU. seseorang hanis mempunyai kedalaman ilmu yang didapat dari kajian terhadap kitab-kitab kuning (klasik) di pesantren. Istilah Ulama (mufrad dari alim) adalah berarti orang yang berilmu atau sarjana, seperti ulama fiqh, ulama hadits dan lain lain tetapi bukan berani orang yang ahli suatu ilmu agama disebut kyat atau ulama. Agar protest lama atau kyai tetap dihormati masyarakat, tidak semua orang dengan begitu dah disebut ulama/Kyai Karena itulah Nahdlatul Ulama (NU) memberikan kriteria ulama sebagai berikut: Pertama, norma pokok yang harus dimilik seorang ulama adalah ketaqwaan kepada Allah SWT dalam mengimplemented ayat al-Quran “Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantur hambaNya hanyalah ulama (QS Fatir: 28). Kedua, seorang ulama mempunyai tugas utama mewarisi misi Rasululullah meliputi, ucapan. ilmu, ajaran, perbuatan, tingkah laku, mental dan moral yang baik, karena para ulama adalah pewaris para nabi. Ketiga, seseorang bisi disch ulama apabila memiliki ciri utama dalam kehidupan sehari-hari, seperti tekan beribadah (baik yang wajib maupun yang sunnah). zuhud (melepaskan diri dar ukuran dan kepentingan materi duniawi) mempunyai ilmu akherat (ilmu agama dengan kadar yang cukup), mengerti kemaslahatan ummat (peka terhadap kepentingan umum) dan mengabdikan seluruh ilmunya untuk Allah disertain yang benar baik dalam berilmu maupun beramal (Ahmad Siddiq. 1980: 26). Karena itulah semestinya masyarakat tidak sembarang menyebut seseorang sebagai ulam (kyai).

Tata hubungan antara santri dengan kyai penuh dengan simbol agama dan kesopanan yang ditujukan sebagai pengakuan masyarakat dan santri terhadap otoritas ulama sebagai pimpinan informal (elit strategis) di masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa dalam tradisi NU terdapat paham yang mapan tentang kedudukan ulama.

Mendirikan NU

KH Hasyim Asyari dalam susunan pengurus hasil muktamar pertama NU tahun 1926 menempati posisi sebagai Rais Akbar di Dewan Syuriah, didampingi oleh wakil rais KH Achmad Dahlan. Sedangkan Khatib syuriah adalah KH Wahab Hasbullah. Dengan demikian KH Hasyim Asyàri adalah Bapak Pendiri NU. disamping KH Wahab Hasbullah dan beberapa ulama lainnya yang terlibat dalam proses pendirian NU (seperti KH. Kholil Bangkalan dan muridnya KH Asid Syamsul Arifin) (Chairul Anam, 1985: 68, 89). Adapun tujuan didirikannya NU adalah untuk menegakkan syariat Islam menurut paham Ahlusunnah waljamah.

Tampilnya KH Hasyim Asyari sebagai pucuk pimpinan NU dan sekaligus sebagai ulama senior, merupakan modal yang sangat kuat dalam merintis persan para ulama tradisional untuk membesarkan NU. Disamping itu pula ketokohan KH Hasyim Asyari yang kharismatik memudahkan koordinasi dalam organisasi karena para ulama sangat respek, tunduk, patuh dan setia kepada beliau, apalagi para santri yang pernah belajar di Tebuireng Perkembangan NU sebagai jamiyyah semakin meningkat, tenutama setelah muktamar kesembilan di Banyuwangi April 1934.

Keberhasilan itu dibuktik dengan diberlakukannya mekanisme kerja organisasi yang baru dengan ahan antara sidang Syunah dan Tanfidziyah. Sebelumnya Syariah selalu mendominasi setiap keputusan partai sehingga Tanfidziyah tidak berhak memutuskan keputusan apapun yang berhubungan dengan masalah agama. Setelah kamar di Banyuwangi Tanfidziyah mulai banyak berperan dalam menjalankan masalah tehnis organisasi dan melaksanakan sidang Tanfidziyah tersenden, tidak bergabung/ikut dalam rapat-rapat yang di selenggarakan oleh Syuriah.

NU dan Muhammadiyah

Kiprah tokoh-tokoh NU dalam konstelasi politik nasional semakin menampakkan citra Islam mazhab, yaitu setelah pemerintah Belanda terlalu jauh mencampuri urusan keagamaan dan mulai tersebarnya tulisan yang menghina Islam, maka pertengkaran yang sebelumnya mencuat antara orang-orang NU dengan Muhammadiyah, Persis dan Al-Irsyad yang “non mazhab” mulai berkurang. Dalam muktamanya di Banjarmasin NU menyerukan kepada umat Islam dan jamiyyahaya untuk meningkatkan ukhuwah Islamiyah dan menghindari pertengkaran soal khilafiyah untuk menghadapi musuh-musuh Islam yang sebenarnya. Dalam muktamar itu KH. Hasyim Asyari menyatakan;

Di antara kalian sampai saat ini masih mengobarkan api fitnah dan perselisihan, kalian masih saling unggul mengungguli dan saling bermusuhan. Hai, para ulama yang tausshub pada sebagian mashah atau qaul ulama, tinggalkanlah taasshub kalian terhadap masalah-masalah yang far (cabang), karena masalah ini ada dua pendapat, bahwa setiap mujtahid nu benar, kedua bahwa yang benar hanyalah satu, tetapi yang salah tetap mendapatkan pahala. Maka tinggalkanlah tasshub kalian. Tinggalkanlah nafsu tercela, pertahankan agama Islam dan berjuanglah menolak orang orang yang sengaja meremehkan al-Quran dan Allah serta orang-orang yang menyebarkan ilmu bathil dan sesat. Apabila kalian melihat seseorang macperjakan amalan atas dasar fatwa seseorang yang memang boleh diikuti taghdi) diantara imam-imam mazhab yang ma tabur maka bila kalam Tidak menyetujuinya janganlah kalian lantas bersikap keras. Berikanlah Petunjuk dengan lemah lembut, dan bila mereka tidak mau mengikuti pendapat kalian, jangan lalu kalian musuhi, sebab sikap seperti itu sama dengan orang yang membangun kota tetapi merobohkan istananya (Chairul Anam 1985-94-95)

*Taashub atau ashabiyah adalah paham yang membela golongan dan kelompok etnis meskipun pendiriannya salah dan tidak dibenarkan. Paham ini diperkenalkan oleh Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya

Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI)

Himbunan yang cukup keras namun bijak tersebut dilakukan oleh KH Hasyim Asyari pada tahun 1936 sebagai respon atas pertengkaran masalah furiyah antara NU dengan Muhammadiyah dan Persis dalam masalah talqin mayit, selamatan, taruh kubur, baca ushalli dan masalah-masalah kecil lainnya. Karena itulah pada muktamar di Malang tahun 1937 KH Hasyim Asyan mengundang kelompok Islam lain untuk menghadiri muktamar NU tersebut, dengan undangan sebagai berikut:

Keimarilah tuan-tuan yang mulia. kemarilah, kunjungilah permusyawaratan kami, marilah kita bermusyawarah tentang apa-apa yang menjadi baiknya agama dan umat. baik urusan agama maupun dunia. Sebab dunia ini tempat mengusahakan akherat dan kebajikan itu tergantung pula atas beresnya peri kehidupan dunia” (Chairul Anamı. 1985:96-97).

Seruan KH. Hasyim Asyàri cukup mengetuk kesadaran para tokoh Islam akan perlunya kebersamaan, persatuan melalui musyawarah, sehingga mulai terjalin kembali semangat ukhuwah Islamiyah. Semangat itulah yang mendorong KH Abdul Wahab (NU), KH. Achmad Dahlan (NU), KH Mas Mansur dan W Mondowiseno (SI) pada bulan September 1937 mengadakan rapat di Surabaya dan berhasil membentuk badan federasi perkumpulan Islam yang bernama Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI).

Seruan Jihad melawan Belanda

Dalam masa pendudukan Jepang aktivitas NU lebih pada perjuangan membela kemerdekaan agama dan bangsa baik secara fisik maupun politis maka pada masa revolusi (1945-1949) keterlibatan NU dalam pengabdiannya kepada nasib bangsa semakin meningkat. Di saat tentara sekutu (NICA) yang disusupi tentara Belanda mendarat di Surabaya untuk kembali menjajah Bangsa Indone- Sta. Saat itu pula pengurus NU segera memanggil seluruh konsul NU se-Jawa dan Madura untuk mengambil sikap terhadap NICA. Pertemuan yang dipimpin oleh KH. Hasyim Asyari di kantor PBNU Surabaya pada tanggal 21-22 Oktober 1945. beliau mengeluarkan fatwa “Resolusi jihad fisabilillah” untuk melawan tentara sekutu. Setelah pertemuan Surabaya itu, NU mendesak pemerintah RI, untuk segera bersikap dengan tegas sesuai resolusi yang dikeluarkan NU yaitu memerintahan Perang Sabil. Menurut NU, bertempur melawan tentara Belanda dan sekutunya (NICA) adalah fardhu ain, wajib hukumnya bagi setiap orang Islam dan berdosa bagi yang meninggalkannya (Chairul Anam, 124). Resolusi jihad ini kemudian diperkuat melalui parttai Masyumi, sebagai keputusan politik dalam melawan kolonial Belanda (NICA).

Resolusi jihad NU ini berhasil mengorbankan semangat pantang yang mundur dari arck-arek Surabaya dan kebencian terhadap Belanda, sehingga pondok pondok pesantren di Jawa Timur telah berubah menjadi markas Hizbullah dan Sabilillah. Perlawanan rakyat terhadap NICA berhasil menewaskan jenderal Mallaby (panglima tentara sekutu di Surabaya). Tewasnya Mallaby milah yang memicu pertempuran besar tanggal 10 November di Surabaya. Untuk mengenang patriotisme dan semangat jihad itulah, pemerintah RI menjadikan tanggal 10 Nopember sebagai Hari Pahlawan.

Partai Masyumi

Ketokohan KH Hasyim Asyári tidak hanya diakui oleh kalangan Nahdliyin saja melainkan diakui oleh berbagai tokoh dan ormas Islam. Misalnya Yusril Ihza (1999:78-84) menunjukkan salah satu bukti pengakuan itu ketika didirikannya Masyumi pada bulan November 1945. KH Hasyim Asyàri dipercaya sebagai ketua Dewan Syuro Partai Masyumi. Partai Masyumi berusaha menghimpun ormas-ormas Islam seperti Muhammadiyah, NU, Persis ke dalam suatu wadah organisasi. untuk memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan negara. Adapun tujuan Masyumi yaitu; untuk menegakkan kedaulatan negara dan melaksanakan cita- cita Islam dalam urusan kenegaraan.

Tokoh Masyumi mengakui kemasyhuran dan pengaruh KH Hasyim Asyarı di kalangan masyarakat dan ulama di pulau Jawa, karena ketokohan dan kharismanya ia dipercaya sebagai ketua Dewan Syura Masyumi. Namun KH. Hasyim kemudian tidak aktif secara langsung dalam pergerakan politik Masyumi di Jakarta, bahkan tidak sekalipun menghadiri musyawarah majelis Syura Masyumi. Hal ini disebabkan karena usianya yang mulai uzur dan beliau lebih banyak berada di Jawa Timur, menekuni pesantrennya hingga beliau wafat.

Sebagai Motivator Perjuangan Bangsa

Pengabdian KH. Hasyim Asyàri bukan hanya di dunia pesantren melainkan juga ikut terlibat dalam pergerakan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan bangsa dari kolonial Belanda dan Jepang. Rasa permusuhan dengan Kolonial ditanamkan KH. Hasyim Asyari kepada santrinya dengan tidak mengagumi semua kultur dan kebiasaan yang datang dari kolonial dengan berpedoman pada haditst, man tasyabbaha bigaumin fahuwa minhum (Barang Sapa yang menyerupai sesuatu kaum, maka ia termasuk ke dalam golongan kaum itu)

Bila seorang santri atau kaum muslimin merasa kagum dengan kebiasaan orang Belanda, maka akan turunlah rasa nasionalismenya setingkat dan sebaliknya tidaklah rasa hormatnya setingkat kepada penjajah. Karena itu keluarlah fatwa sang Kyai yang melarang para santri dan kaum muslimin berpakaran menyerupa orang Belanda, seperti memakai topi polka, memakai celana, menggunakam bahasa Belanda di (Tebureng, 1986: 54) Fatwa larangan tersebut kemudian diartikan masyarakat awam menjadi “haram”, sehingga para santri, mantan santri dan masyarakat melaksanakan fatwa tersebut.

Sikap kritis melawan Kolonial

Sikap kritisnya terhadap penjajah Belanda yang didorong semangat keagamaan membuat Hasyim Asyari “diperhitungkan” oleh pihak kolonial Pada tahun 1937 misalnya pernah datang utusan pemerintah Belanda yang berusaha membujuk KH. Hasyim untuk tidak melawan Belanda, dengan memberikan bintang tanda jasa yang terbuat dari emas dan perak, namun KH. Hasyim Asyari menolaknya. Beliau teringat hal yang hampir sama pemah terjadi dengan Rasulullah ketika melalui pamannya Abu Thalib berusaha menawarkan kedudukan yang tinggi. harta benda yang banyak dan wanita cantik kepada Muhammad agar menghentikan dakwahnya, namun Rasulullah menolaknya. Setelah utusan Belanda pulang KH Hasyim Asyari berpidato di hadapan santrinya dan menyampaikan kisah upaya menghentikan dakwah Nabi tersebut kepada santrinya, dengan harapan agar para santrinya tetap berjuang melawan kolonial dan tidak terpengaruh dengan bujuk rayu mereka (Chairul Anam. 1985: 62-63).

Menolak Saikere

Sikap antipati terhadap kolonial kembali dilakukan oleh KH. Hasyim Asyan ketika Jepang berkuasa (1942-1945) yaitu dengan menolak melakukan “Saikere”. Masalah saikere ini menimbulkan kegemparan dikalangan pesantren dan para ulama, menurut pandangan mereka, melakukan saikere hukumnya adalah haram dan berdosa besar. Membungkukkan badan seperti orang rukun dalam shalat hanya untuk Allah. Selain Allah, apakah ia raja atau keturunan dewa sekalipun, hukumnya haram. KH. Hasyim menentang keras upacara saikere, sebagai bentuk penghormatan kepada Tenno Heika yang dipercaya sebagai keturunan dewa Amaterasu. Karena sikapnya yang menentang perintah kolonial jepang terutama dalam hal saikere, maka pada akhir April 1942 KH. Hasyim ditangkap dipenjarakan oleh Jepang, selain masalah saikere tersebut ia juga dituduh mendalangi pengrusakan pabrik gula di Jombang. Setelah peristiwa itu pesantren Tebuireng ditutup untuk sementara. Semula KH. Hasyim dipenjara di Jombang. kemudian di Mojokerto dan akhimya dipindahkan dalam penjara Bubutan Surabaya bersama-sama dengan tawasan sekutu lainnya.

*nSaikere adalah tradisi Jepang yang menghormat kaisar Jepang Tenno Heika dengan membongkukkan badan 90 derajat menghadap ke arah Tokyo. Seluruh penduduk tanpa kecuali pada pukul 7 pagi harus berbaris untuk melakukan saikere.

Disiksa Jepang

Pengaruh dan kecintaan rakyat terhadapnya terbilang sangar tinggi. Saifuddin Zuhri (1997 168-169) dan Chairul Anam (1985: 114) menggambarkan suasana ketegangan yang terjadi pada masa penahanannya oleh Jepang Selam dalam tawanan Jepang KH. Hasyim disiksa secara kejam, sehingga jamari tangannya remuk tak bisa digerakkan lagi. Mengetahui Kyainya mendapat siksa kejam, ribuan para santri dan alumni Tebuireng berunjuk rasa ke penjara Jepang tersebut. Sebagai bentuk solidaritasnya, para rakyat dan santri minta di penjarakan bersama-sama KH. Hasyim, yang saat itu berusia 70 tahun. Untuk menghindar hal-hal yang tidak diinginkan. Jepang memindahkan KH. Hasyim ke penjara Mojokerto.

Peristiwa itu mendorong lahirnya semangat pemberontakan anti Jepang (anti saikere) di kalangan pesantren. Selain itu pula H.Wahid Hasyim, putra KH. Hasyim Asyari, ketika itu telah menjadi tokoh agama dan politik yang cukup berpengaruh, pergi ke Jakarta untuk membebaskan ayahnya. Melalui kenalannya ia berusaha melobby pihak Jepang untuk membebaskan ayahnya. Usahanya berhasil. KHI Hasyim Asyari dibebaskan pada tanggal 18 Agustus 1942, setelah mendekam empat bulan dalam penjara Jepang.

Karena perlawanan keras dari umat Islam tidak hanya di Jawa melainkam juga di Minangkabau oleh DR. H. Abdul Karim Amrullah, yang dapat membahayakan kekuasaan Jepang, maka tradisi Saikere itu kemudian dihapus sendiri oleh Jepang. Pada tahun 1944 pihak Jepang memanfaatkan pengaruh KH. Hasyim Asyàri dengan mengangkatnya sebagai Kepala Kantor Urusan Agama untuk wilayah Jawa dan Madura.

Bung Tomo & Jendral Soedirman

KH. Hasyim Asyari, merupakan ulama pejuang dan pejuang yang ulama. Peran tersebut dimanifestasikan dalam penentangannya kepada pihak kolonial. sebagai wujud nyata keberpihakannya pada kebenaran dan dakwah bilal, untuk mengusir penjajah dari tanah air Indonesia. Peran tersebut mendapat samburan hangat dari tokoh pergerakan seperti Bung Tomo dan Jenderal Soedirman, mereka sering bertandang ke Tebuireng untuk meminta nasehat maupun bertukar pikiran dengan KH. Hasyim Asyari dalam menghadapi agresi Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia (Chairul Anam, 1985:64).

Perhatiannya kepada nasib bangsa untuk menjadi bangsa yang berdaulat dan terhormat dan kebenciannya terhadap Belanda menjadi bagian hidupnya sampai mendekati ajalnya. Saat itu tanggal 25 Juli 1947, setelah shalat Tarawih KH Hasyim Asyari kedatangan tamu utusan Bung Tomo, sehingga sang Kyai membatalkan ceramah setelah tarawih dan menemui tamu pentingnya tersebut

Utusan Bung Tomo menyampaikan surat kepada Kyai Asyari dimana isi suratnya Bung Tomo memohon agar KH Hasyim Asyari memberikan komando ” Jihad Fisabilillah” pada umat Islam untuk melawan Belanda. Namun KH Hasyim Asyari tidak memberikan jawaban langsung karena masalah itu dianggapnya sangat penting tetapi meminta waktu semalam untuk berpikir lebih lanjutdan lebih tenang. Memang kebiasaan KH. Hasyim Asyari selalu berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan penting yaitu dengan melakukan sholat istikharah baru kemudian memberikan persetujuan untuk jalan keluarnya

KH Hasyim Asyari, sebelumnya telah berpendapat (1945) bahwa perjuangan melawan kolonial (tentara sekutu) untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan adalah sebagai jihad fi sabilillah, wajib hukumnya bagi setup individu muslim, bagi yang tidak berangkat berperang dengan tanpa alasan yang jelas dianggap sebagai pengecut yang berdosa (Mak soem Mahfud, 55). Disamping itu kolonialisme jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang mengajarkan cinta kasih dan kedamaian.

Wafat di bulan Ramadhan

Setelah utusan Bung Tomo dan Panglima Soedirman datang lagi, Kyai Gufron pimpinan laskar Sabilillah Surabaya yang bercerita bahwa saat itu Belanda telah berhasil menduduki kota Malang (Pimpinan Hizbullah Malang ketika itu dipimpin oleh KH Masykur), yang banyak menelan korban jiwa dari rakyat tak berdosa dari pihak republik. Malang ketika itu adalah kota strategis dan pusat Hizbullah-Sabilillah. Mendengar cerita tamunya itu KH. Hasyim Asyari sangat terkejut dan mengucapkan masya Allah-masya Allah seraya menekan kepalanya kuat-kuat dan kemudian tak sadarkan diri dalam keadan tetap duduk. Ternyata KH. Hasyim Asyari terserang penyakit peradangan otak secara mendadak. Maka menjelang subuh KH. Hasyim Asyari akhirnya berpulang ke rahmatullah pada tanggal 25 Juli 1947 atau bertepatan dengan tanggal 7 Ramadhan 1336 H.

Gelar Pahlawan Nasional

Pada saat ia meninggal dunia terlihat dan terbukti betapa besar kharisma KH. Hasyim Asyari di masyarakat atas jasa-jasa dan pengabdiannya. Ribuan umat Islam santri dan para ulama, pimpinan militer dan organisasi Islam nasional mendatangi Tebuireng untuk memberikan penghormatan terakhir kepada seorang ulama besar pejuang bangsa dan agama. Pemerintahan Soekarno juga akhirnya melalui keputusan presiden No 249/1964 mengakui KH. Hasyim Asyari sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional karena jasa-jasanya kepada pemerintah dan bangsa Indonesia selama perang kemerdekaan melawan Belanda.

Perlu dicatat bahwa antara tahun 1945-1947 KH. Hasyim Asyari mengeluarkan dua fatwa, pertama ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad perang suci) dan kedua, ia melarang kaum muslimin Indonesia untuk melakukan perjalanan haji dengan kapal-kapal Belanda. (Zamakhsyari Dhofter 1982-98-99). Selain itu pula sebagai wujud penghargaan atas pas-pen nama KH. Hasyim Asyani digunakan sebagai nama-nama jalan di berbagai kota besar di Indonesia.

Karya-Karyanya

Sebagai seorang Ulama, pendidik dan pejuang bangsa. KH Hasyim Asyn melalui pesantren Tebuireng telah banyak menghasilkan para ulama dan pemimpin bangsa. Hampir seluruh ulama besar di Jawa pemah belajar di Tebuireng Sebagai seorang pendidik dan ulama yang berpengaruh KH. Hasyim Asyari telah banyak menulis buku-buku yang bisa menjadi pedoman bagi para santri-santri dan para ulama.

Buku-buku karangan yang ditulis oleh KH Hasyim Asyari khususnya di bidang pendidikan agama antara lain;

  1. Adab Al Alim wa Al Mutaàlim (Perilaku guru dan murid).
  2. Ziyadah Taligat. (Tambahan Catatan-catatan) Kitab ini berisi tentang jawaban-jawaban KH Hasyim Asyari terhadap pernyataan (statements dari asy-Syeikh Abdullah bin Yasin Al Pasuruwani, yang dianggap belia dapat melemahkan warga besar Nahdlatul Ulama.
  3. At-Tanbihat al-Wajibat (Mengingatkan Hal-hal yang wajib) Kitab ini berisi peringatan kepada para santri dan umat Islam terhadap hal-hal yang wajib bagi orang yang mengadakan peringatan maulid Nabi Muhammad Saw, dengan cara-cara yang munkar.
  4. Ar-Risalah al-Jamiah (Kumpulan risalah-risalah) Kitab ini berisi penjelasan-penjelasan tentang keadaan orang yang meninggal dunia dan tanda-tanda hari kiamat serta penjelasan tentang pemahaman sunnah dan bidah.
  5. An-Nur Al-Mubin (Cahaya Penerang dalam mencintai sayyidil mursalim) Kitab ini berisi tentang makna cinta kepada sayyidil mursalin. Nabi Muhammad saw dan hal-hal yang mesti diikuti dalam rangka menghidupkan sunnahnya.
  6. Hasyiyah Ala Fath ar-Rahman. Kitab ini merupakan penjelasan (syarah) atas risalah wali Ruslan karya syaikh al Islam Zakaria Al-Anshari.
  7. Ad-Durar al-Muntatsiroh Fr Masail at-Tisa Asyaroh (Taburan permata yang indah tentang sembilan belas perkara) Kitab ini membahas 19 masalah thariqat. wali-wali dan hal-hal penting bagi para pengikut thariqat
  8. At Tibyan Fin Nahyi An Muqotaat Al Ikhwan (Larangan memutuskan kawan).Kitab ini menerangkan pentingnya menjalin hubungan sillaturrahmi antar sesama muslim dan menerangkan bahayanya bila memutuskan hubungan silaturahmi tersebut.
  9. Ar-Risalah At Tauhidyah (Risalah Ketauhidan) Kitab ini merupakan risalah kecil tentang aqidah ahlussunnah waljamaah.
  10. Al Qola-id (Kalung Perhiasan) Kitab ini menerangkan tentang akidah-akidah wajib.

Mungkin masih banyak kitab-kitab lain yang ditulis oleh KH Hasyim Asyari yang belum berhasil diungkapkan, namun karya-karya di atas sudah cukup untuk mewakil hasil-hasil tulisan beliau. Demikianlah sosok tokoh ulama pejuang dan pendidik, pendiri organisasi NU yang sangat berpengaruh dalam pengembangan pendidikan pesantren di Tanah Air. Berkat perjuangan yang telah dirintis beliaulah, maka NU menjadi sebuah organisasi terbesar di Indonesia, anggota NU hingga kini mencapai sekitar 40 juta orang. Pengaruh ketokohan dan kharisma Kyai Hasyim pun menurun sampai kepada anaknya KH Wahid Hasyim, mantan menteri agama dan cucunya Abdurahman Wahid, mantan presiden RI ke-4.

Sumber :

  1. Hamid, Shalahuddin, Ahza, Iskandar, 100 tokoh Islam paling berpengaruh di Indonesia, Intimedia, 2003

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *