
Riwayat Hidup & Pendidikan
Ahmad Dahlan, adalah tokoh pendiri organisasi Muhammadiyah (1912- 1923 M). la lahir di Yogyakarta tahun 1868 dan meninggal tanggal 23 Februari 1923. Nama kecilnya Muhammad Darwis, anak keempat dari KH Abubakar. la menikah dengan Siri Walidah dan dikarunia enam anak. Sejak kecil Muhammad Darwis sudah diajarkan pendidikan agama oleh orang tuanya, ia juga diajarkan bahasa Arab. Tahun 1888, ia menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Di Mekkah ia bermukim selama lima tahun untuk menuntut ilmu agama Islam, seperti Qiraat, tauhid, tafsir, fiqih, tasawuf, ilmu mantik dan ilmu falak. Setelah kembali ke kampungnya di Kauman Yogyakarta, iapun mengganti namanya menjadi Haji Ahmad Dahlan.
Belajar lagi ke Mekkah
Pada tahun 1903 ia berangkat kembali ke Mekkah untuk mendalami ilmu agama selama tiga tahun. Ia belajar pada Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau. Selain itu dia juga tertarik pada pemikiran Islam Ibnu Taimiyah dan tokoh pembaruan Islam. Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rashid Ridha. Tokoh-tokoh inilah yang kemudian banyak mempengaruhi pikiran Ahmad Dahlan. Paham pembaruan Islam yang digagas oleh al-Afghani dan Abduh inilah yang dikembangkan oleh Ahmad Dahlan dan menjadi ruh organisasi yang didinkannya Muhanumadiyah.
Selain itu, la juga tertarik kepada kitab tafsir Al-Manar yang memuat pikiran-piliran Muhammad Abduh. Kitab tafsir ini banyak memberikan inspirast dan motivasi untuk mengadakan perbaikan dan pembaruan umat Islam di Indonesia.
Profesi & Perjuangannya
Sepulang belajar dan Mekkah, Ahmad Dahlan menjadi staf pengajar agama di kampungnya. Kauman Ia juga mengajar di sekolah negen, seperti Kweek Scho (Sekolah Raja) di Jetis (Yogyakarta) dan Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA), sekolah pendidikan untuk pegawai pribumi di Magelang.
Mengajar & Berdagang
Profesi Ahmad Dahlan selain mengajar ia juga bertabligh dan berdagang la berdakwah dari suatu tempat ketempat lain. Untuk menunjang usaha kehidupan keluarga dan dakwahnya, sapun menjadi saudagar/berdagang, ia pernah berniaga di Jakarta dan Surabaya, bahkan sampai ke tanah seberang. Medan. Sungguhpu demikian ta tetap menambah ilmu dengan mendatangi ulama serta memperhatikan keadaan kaum muslimin di tempat-tempat yang disinggahinya. Mula-mula a menjabat jabatan menjadi pegawai mesjid Sultan. Kemudian ia mengajar di pesantrennya sendiri. Ilmu dan ketokohannya menjadikan pesantrennya dikunjungi oleh pelajar-pelajar dari berbagai tempat.
Organisasi Muhammadiyah
KH. Ahmad Dahlan dipandang oleh banyak pengamat sebagai seorang tokoh kyai yang besar bukan karena pondok pesantren tetapi karena organisasi Muhammadiyah yang dipimpinnya. Namun organisasi yang dipimpinnya kemudian lebih banyak mengembangkan sektor pendidikan modern di seluruh Indonesia Nama Kyai Ahmad Dahlan cukup termasyhur sebagai tokoh pendiri Muhammadiyah, sehingga organisasi ini menjadi organisasi kemasyarakatan terbesar kedua setelah NU. Hingga saat ini Muhammadiyah telah menunjukkan kontribusinya yang besar terhadap bangsa dan negara, terutama dalam mencerdaskan umat melalui pendidikan dari mulai TK hingga perguruan Tinggi usaha sosial dan keagamaan lainnya di berbagai kota besar di Indonesia.
Paham Pembaruan Islam Indonesia
Timbulnya pemikiran pembaruan Islam modern disebabkan oleh kemunduran dan kerapuhan dunia Islam karena faktor- internal umat Islam. Selain itu disebabkan pula karena masuknya imperalialisme Barat ke dunia Islam yang melahirkan penjajahan Barat dan perlawanan dari umat Islam serta pengaruh dan keunggulan Barat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi maupun organisasi.
Ibnu Taimiyah
Ide dan semangat pembaruan Islam pertama kali digagas oleh seorang ulama besar asal Syria, Damaskus Ibnu Taimiyah (1263-1328M) bersama-sama dengan muridnya Ibnu Qayyim al-Jauziyah (1292-1350M). Pemikiran pembaruan mereka muncul di saat kejayaan Islam (abad ke-7) mengalami kemunduran pada abad ke 13. Kemunduran itu disebabkan karena para penguasa dan sebagian besar umat Islam banyak yang meninggalkan ajaran Islam yang murni sebaliknya mereka bergelimang dalam kemewahan hidup duniawi akibat yang pasti adalah menurunnya kualitas kehidupan sehingga terjadi krisis yang melanda dunia Istain di berbagai bidang kehidupan keagamaan, sostal politik dan ilmu pengetahuan.
Melihat kondisi umat Islam itulah Ibnu Taimiyah yang hidup di stat akhir kejayaan dinasti Abbasiyah (750 H/1254 M) berpandangan bahwa hanya dengan berpegang teguh kepada al-Quran dan hadits dalam segala aspek kehidupan, umat Islam akan mendapatkan kejayaannya kembali. la memulai upaya penetrasi ajaran Islam untuk mencapai tujuannya tersebut, umat Islam harus meninggalkan taqlid bid’ah dan khurafat serta harus berani melakukan ijtihad dalam menghadapi masalah-masalah baru yang terdapat di sekitar kehidupan mereka.
Jamaluddin Al-Afghani
Seruan pembaruan tersebut kembali bergaung setelah ratusan tahun tersembunyi, baru didengungkan oleh Jamaluddin al-Afghani dan murid-muridnya Muhammad Abduh dan Rashid Ridha. Dan melesat cepat di tangan Muhammad Abdul Wahab (1703-1787) dengan gerakan Wahabinya yang merespon kondist umat Islam di tengah kemundurannya. Abdul Wahab lebih menekankan pada pemurnian ajaran Islam. Misalnya umat Islam yang meminta-minta kepada wali, syeikh dan kekuatan gaib serta menyebut-nyebut nama seseorang sebagai perantara dalam berdoa adalah perbuatan yang musyrik. Merokok dan memakai pakain mewah dan berlebihan haram hukumnya. Terhadap mereka yang melanggar dihukum cambuk 40 kali. Ajaran ini didukung oleh Ibnu Suud dengan kerjasin mereka berdua dibentuklah kerajaan Saudi Arabia. Abdul Wahab telah berupaya untuk melakukan pemurnian agama Islam, walaupun sebagai seorang reformis, Abdul Wahab dinilai anti intelektual dengan penolakannya terhadap metodologi dan penegasannya terhadap radikalisme.
Dampak dari pemurnian yang ketat tersebut membuat kerajaan Saudi sempat melarang jamaah haji untuk berziarah ke makam Rasulullah dan tempat-tempat keramat lainnya, namun kebijakan tersebut diprotes oleh kalangan NU yang mengirim utusannya untuk menemui Raja Ibnu Suud. Berkat lobbi dari tokoh NU mereka tidak jadi melakukan pelarangan ziarah ke makam Nabi SAW dan pembongkaran tempat-tempat bersejarah tersebut.
Pan Islamisme
Jamaluddin al-Afghani, Mesir (1839-1897 M), adalah tokoh yang paling pantas mendapat predikat pembaru Islam yang sebenarnya, ia berpandangan bahwa Islam adalah agama yang sesuai untuk semua bangsa dan di segala masa. Untuk menjawab segala perkembangan zaman, diperlukan suatu ijtihad dan pintu unhad tetap terbuka. Kemunduran umat Islam disebabkan mereka telah meninggalkan ajaran Islam dan mengikuti ajaran-ajaran asing. hal itu karena umat Islam lemah persaudaraannya sehingga menyebabkan perpecahan dan kehancuran mereka Karena itulah, ia menggagas Pan Islamisme untuk persatuan dunia Islam.
Muhammad Abduh Mesir
Selain al-Afghani rekannya Muhammad Abduh Mesir, (1849-1905 M) berpendapat, sebab yang membawa kemunduran umat Islam adalah karena adanya stagnasi, kebekuan dan kejumudan dalam memahami ajaran Islam, seperti ungkapannya yang terkenal; Al Islamu mahjubun bil muslimin (agama Islam tertutup kesempurnaannya oleh umat Islam sendiri). Padahal ajaran Islam memberikan kedudukan tinggi kepada akal pikiran, karena Islam adalah agama yang selalu sesuai dengan akal (rasional), sesuai dengan pengetahuan modern dan ilmu pengetahuan modern pasti sesuai dengan Islam. Karena itu umat Islam harus mendalami dan mementingkan ilmu pengetahuan.
Untuk memajukan ilmu pengetahuan tersebut harus ditempuh dengan jalan pembaruan di bidang pendidikan. Melalui pendidikan itulah maka dihasilkan ulama serta kader-kader yang akan menjadi pelopor kemerdekaan berfikir dan menentukan langkah pembaruan untuk pembangunan masyarakat selanjutnya (Musthofa Kamal Pasha dkk. 1976: 10-13). Sosialisasi terhadap gagasan dan pemikiran pembaruannya dilakukan secara lisan maupun melalui majalah Al-Urwatul Wutsqa dan Al-Manar yang banyak digemari oleh umat Islam di berbagai negara.
Rashid Ridha
Demikian pula pemikiran Abduh diteruskan oleh muridnya Rashid Ridha, Libanon (1865-1935M), pandanganya antara lain: untuk terwujudnya kesatuan umat Islam. jangan didasarkan kepada kesatuan bahasa atau bangsa, tetapi atas dasar kesatuan iman dan agama. Selain itu perlu adanya kerukunan (toleransi) bermazhab. Dalam hal yang pokok umat Islam satu paham, akan tetapi dalam hal furu (perincian/cabang) perlu diberikan kebebasan untuk menjalankan kepada yang menyukainya. Kaum wanita harus diikut sertakan dalam kegiatan kemasyarakatan
Ridha, juga mengeritik praktik kaum sufi yang dianggapnya memperlemah agama Islam, karena mereka melalaikan tugas kewajibannya di dunia dan banyak mengerjakan hal-hal yang sepele. Mereka juga mengajarkan paham yang salah kepada umat Islam bahwa Islam adalah agama yang pasif, pasrah saja pada setiap ketentuan Tuhan tanpa berusaha. Padahal Islam menurutnya adalah agama yang perkasa penuh dinamika dan aktivitas. Sebagai seorang ulama yang politikus, Ridha juga berpandangan bahwa untuk mewujudkan kejayaan umat Islam. umat Islam perlu mempunyai suatu negara. Karena segala hukum dan undang-undang tidak bisa terlaksana tanpa adanya suatu kekuasaan pemerintahan.
Mujtahid (pembaharu Islam)
Pemikiran Ibnu Taimiyah, al-Afghani. Abduh dan Rashid Ridha di atas sangat mempengaruhi pemikiran dan gerakan Ahmad Dahlan dan tokoh-tokoh Islam modernis lainnya. Pengaruh pemikiran tersebut telah pula menyadarkan tokoh tokoh Islam dunia untuk bangkit membebaskan bangsanya dari segala belenggu penjajahan dan kebodohan. Mereka itulah mujtahid (pembaharu Islam) seperti ditegaskan dalam hadist Nabi yang dilahirkan setiap awal (satu) abad.
3 Gerakan Awal KH Ahmad Dahlan
Pikiran-pikiran pembaruan itu berpengaruh besar terhadap konstelasi sosial politik di seluruh dunia. Keberhasilan Mesir menghalau kolonialisme tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Pan Islamisme yang dikembangkan al-Afghani dan murid-mundnya. Pembaruan itu terus mengembang ke Asia Tenggara melalui jalur pertemuan tahunan terbesar umat Islam seluruh dunia melalui media haji. Tidak terkecuali tokoh pembaru Indonesia KH Ahmad Dahlan. Setelah pulang dari Mekkah, KH Ahmad Dahlan mulai menerapkan paham pembaruan tersebut yang diawalinya dengan melakukan usaha-usaha pelurusan akidah dari segala bentuk penyimpangan dan menggiatkan amaliah ibadah masyarakat Islam di Kauman. Gerakan KH. Ahmad Dahlan seperti nanti akan dibicarakan mengambil arah pemurnian Islam melalui Kaum Muda. Dalam rangka pembaruan Islam tersebut, ia mulai meniti jalan perjuangan dari Kauman, tempat tinggalnya. Mula-mula usahanya antara lain;
- 1. Mengubah & membetulkan arah kiblat
Pada umumnya mesjid-mesjid dan langgar-langgar di Yogya menghadap ke jurusan Timur dan orang sembahyang di dalamnya menghadap ke arah Barat lurus padahal berdasarkan ilmu falak, kiblat yang sebenarnya menuju Kabah dari tanah Jawa seharusnya miring ke arah utara sekitar 24 derajat dari sebelah Barat. Oleh sebab itu KH Ahmad Dahlan mengubah bangunan pesantrennya sendiri. supaya menuju ke arah kiblat yang betul. Memang perubahan yang diadakan oleh KHA Dahlan itu mendapat tantangan keras dari pembesar-pembesar masjid dan elite penguasa kerajaan.
Menurutnya, banyak tempat ibadah yang tidak benar arah kiblatnya. diantaranya masjid Agung Yogyakarta. Untuk meluruskan kiblat masjid Agung ini. ia harus minta izin dengan kepala penghulu Keraton Yogyakarta yang saat itu dijabat oleh KH Muhammad Chalil Kamaluddiningrat. Karena izin itu tidak mungkin didapatkan, maka secara diam-diam dengan bantuan para santrinya, suatu malam KH Ahmad Dahlan meluruskan shaf masjid tersebut dengan memberikan guris putih.
Tindakan Ahmad Dahlan ini menurut kepala penghulu merupakan suatu kesalahan, akibatnya Ahmad Dahlan diberhentikan sebagai khatib di masjid tersebut. Padahal sebagai seorang khatib, Ahmad Dahlan sangat disenangi oleh masyarakat (terutama dalam menyampaikan materi ceramah agamat, hingga sultan Yogya sebelumnya sempat memberinya gelar Khatib Amin.
- 2. Menyiarkan Dakwah
Dalam mengajarkan dan menyiarkan agama Islam dilakukannya secara populer Aktivitas dakwahnya bukan saja di pesantren, melainkan ke tempat-tempat lain seperti mendatangi berbagai golongan. Sejak tahun 1905 Ahmad Dahlan sering melakukan dakwah dan pengajian-pengajian agama Islam yang bernuansa modentr dengan menitik beratkan pada ajaran amaliyah.
Dakwah yang disampaikan Ahmad Dahlan tidak hanya terbatas pada golongan masyarakat awam, melainkan pula pada pegawai golongan atas. Untuk itulah pada tahun 1909 ia memasuki perkumpulan Boedi Oetomo, satu-satunya organisasi yang ditata secara modern pada waktu itu. Ia pun memberikan pelajaran agama kepada para anggota perkumpulan itu, dan ia berharap agar mereka bisa meneruskan pelajaran agama tersebut ke kantor dan sekolah masing-masing. Demikian juga ia mengharapkan agar guru-guru yang telah mendengar ceramahnya. selanjutnya menyampaikan kembali kepada muridnya masing-masing. Karena aktifnya perjuangan dakwah. KH Ahmad Dahlan dapat dikatakan sebagai bapak mubaligh di Jawa Tengah, sebagaimana Syeikh Jamil Jambek bapak mubaligh di Sumatera Tengah. Ceramah agama yang disampaikan oleh Ahmad Dahlan mendapat respon yang positif, sehingga mereka menyarankan agar Ahmad Dahlan mendirikan sekolah yang teratur, organisatoris, seperti sekolah modern. Saran tersebut direspon baik oleh Dahlan.
Dalam upaya memurnikan ajaran Islam, Ahmad Dahlan berusaha keras memberantas bid’ah dan khurafat. Sikap keras dari Ahmad Dahlan terhadap bid’ah. dipengaruhi paham reformasi Islam yang digagas kaum Wahabi yang mungkin sekali banyak diperolehnya dari gurunya Ahmad Surkati. Pemikiran pendin Muhammadiyah ini paralel dengan perjuangan Persatuan Islam (Persis). Karenu adanya kesamaan paham idelogi inilah Muhammadiyah lebih dekat kepada Persis daripada dengan NU.
- 3. Mendirikan Sekolah
Menurut Dahlan Islam adalah agama amal, yang mendorong umatnya untuk bekerja dan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan orang banyak. Karena prinsipnya inilah organisasi Muhammadiyah yang dipimpinnya hingga sekarang lebih menekankan pada amal usaha. Menurut pengamatannya, banyak gerakan- gerakan Islam yang tidak berhasil dalam usahanya, karena mereka tidak berilmu luas. Sebaliknya banyak orang yang berilmu akan tetapi tidak mau mengamalkan ilmunya.
Atas dasar keyakinan itulah ia mendirikan sekolah Muhammadiyah tahun 1911 yang menempati sebuah ruangan kelas dilengkapi dengan meja dan papan tulis. Inilah sekolah modern pertama yang didirikan oleh Ahmad Dahlan la memasukan mata pelajaran yang lazim dipakai di sekolah Belanda seperti ilmu bumi, ilmu hayat dan ilmu alam, serta cara-cara baru dalam pengajaran ilmu-ilmu agama sehingga lebih menarik dan lebih bisa dipahami Dalam proses belajar mengajar, murid perempuan tidak dipisahkan dengan murid laki-laki seperti kebiasaan di surau-surau.
Dalam perjuangannya menjalankan misi pembaruan Islam, ia sering melakukan tindakan yang tidak sejalan dengan kebiasaan ulama pada waktu itu. seperti memberikan pengajian kepada kaum muslimat dan membolehkan wanita keluar rumah selain untuk mengaji. Langkahnya ini diilhami oleh gagasan dari Rashid Ridha tentang pentingnya pemberdayaan perempuan. Maka jadilah Muhammadiyah sebagai tempat pembinaan kader pembaruan Islam Indonesia yang pada akhirnya sangat berpengaruh menjadikan Muhammadiyah sebagai organisasi pergerakan dan organisasi lembaga pendidikan yang besar dengan manajemen yang mapan.
Muhammadiyah dan Perkembangannya
Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 Nopember 1912 M. sejak awal berdirinya Ahmad Dahlan menjabat sebagai ketua sampai tahun 1923. Dalam anggaran dasar pertamanya, dijelaskan bahwa tujuan didirikannya Muhammadiyah adalah untuk menyebarkan ajaran Nabi Muhammad kepada penduduk bumi putera dalam keresidenan Yogyakarta serta untuk memajukan agama Islam kepada anggota-anggotanya. Tujuan ini kemudian pada tahun 1959. lebih disempurnakan, yaitu untuk menegakkan dan menjunjung tinggi agama Is lam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Pada permulaan berdirinya Muhammadiyah mendapat halangan dan rintangan yang sangat hebat. Bahkan KH Ahmad Dahlan dituduh lawannya telah keluar dari madzhab, meninggalkan paham ahlussunnah wal jamaah. Pendeknya bermacam-macam tuduhan dan fitnahan yang ditujukan kepadanya. Tetapi semua diterimanya dengan sabar dan tawakkal.
Bidang usaha Muhammadiyah
Ahmad Dahlan tetap gigih memperjuangkan cita-citanya. Untuk melaksanakan roda organisasi, Muhammadiyah merumuskan berbagi empat program kerja, berupa amal usaha yaitu Agama. Pendidikan. Kemasyarakatan dan Politik Kenegaraan. Dalam bidang agama, Usaha yang dicapai melalui bidang ini antara lain;
- Terbentuknya Majelis Tarjih (1927), suatu lembaga ang menghimpun para ulama Muhammadiyah, secara berkala mengadakan musyawarah dan memberikan fatwa dalam masalah agama dan kemasyarakatan
- Terbentuknya Departemen Agama. Terbentuknya departemen ini tidak terlepas dari kepeloporan Muhammadiyah. Karena itulah, Muhammadiyah dapat menempatkan kadernya, HM Rasjidi BA sebagai menteri agama pertama. Demikian pula dilakukan upaya penyempurnaan perjalanan haji yang dirintis olh KH Suja’ dari PKU Muhammadiyah.
Dalam pandangannya terhadap mazhab, Muhammadiyah berpendapat, sesuai al-Quran dan hadits yaitu:
- Pertama; “Apabila engkau berselisih dalam suatu masalah, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasulnya. Jika kama beriman kepada Allah dan hari akhir” (QS. an-Nisa 4:59).
- Kedua: “Apakah kamu tidak memikirkan al-Quran dan andai kata mengambil selain hukum Allah pastilah mereka mendapatkan perpecahan yang besar” (QS. an-Nisa 4: 82). Ketiga “Barang siapa melakukan ijtihad dan benar, maka baginya dua pahala dan bila salah berijtihad baginya satu pahala” (al-hadits).
Dalam bidang pendidikan, upaya yang dilakukan yaitu ;
- (1) mendirikan sekolah-sekolah umum dengan memasukan ke dalamnya ilmu-ilmu pendidikan agama.
- (2) Mendirikan madrasah-madrasah yang juga diberi pendidikan dan pengajaran ilmu umum.
Dalam bidang kemasyarakatan, upaya yang dilakukan adalah;
- (1) Mendirikan rumah sakit modem.lengkap dengan segala peralatannya rumah bersalin, apotik dll.
- (2) Mendirikan panti-panti asuhan untuk mendidik dan menyantuni anak yatim.
- (3) Mendirikan usaha parcetakan dan penerbitan dan toke buku untuk menyebar luaskan paham-paham keagamaan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan Isla, dan
- (4) Membentuk unit-unit perencanaan keluarga sejahtera dan bantuan dana hari tua.
Penasehat Syarikat Islam
Dalam bidang politik kenegaraan: Muhamadiyah menyebut dirinya bukan organisasi politik dan tidak akan menjadi partai politik. Namun demikin Muhammadiyah berpandangan bahwa Islam mengatur segala aspek kehidupa manusia didunia, termasuk masalah politik dan kenegaraan, sehingga bidang in juga menjadi garapannya. Keterlibatan Muhammadiyah dalam bidang politik da kenegaraan masih dalam kerangka gerakan dakwah (struktural) untuk mewujudkan amar ma’ruf nahi munkar (QS. Ali Imran 2:104). Atas dasar itulah misalnya KH Ahmad Dahlan masuk dalam perkumpulan Boedi Oetomo dan menjadi pensehat Syarikat Islam (SI) serta masuk di Jamiat Khair. Ahmad Dahlan memasuki Janat Khair (organisasi keturunan Arab), motifnya adalah untuk mendapatkan informa tentang perkembangan dunia Islam, khsususnya di Timur Tengah. Waktu itu satu-satunya organisasi Islam yang mempunyai hubungan baik dengan negara-negara Islam di Timur Tengah adalah Jamiat Khair.
Ahmad Dahlan juga memasuki Syarikat Islam (SI) yang didikan pasta akhir tahun 1911 di Solo. Motifnya aktif di organisasi ini adalah karena terdorong oleh rasa semangat kebangsaan. Di SI ia pernah menjabat sebagai pengurus Korite Tentara Kanjeng Nabi Muhammad Keterlibatan Ahmad Dahlan dalam Boedi Oetomo. Jamiat Khair dan Syarikat Islam, adalah selain motif yang telah disebutkan diatas juga terdorong oleh upaya untuk menyebarkan dakwah Islamiyah dikalangan lingkungan organisasi-organisasi tersebut sekaligus menjadikan organisasi tersebut sebagai wadah perjuangan untuk menyebarkan ide-ide pembaruan Islam, guna mensosialisasikan dan meneruskan ide atau gagasan pembaruan pemikiran Islam yang diterimanya ketika belajar di Mekkah, seperti pemikiran Ibnu Taimiyah, Paham pembaruan yang dibawa oleh Jamaluddin al- Afghani, Abduh dan Rashid Ridha.
Boedi Oetomo
Tatkala ide pembaruan yang dilontarkan Ahmad Dahlan mendapat respons positif dan mulai berkembang, maka iapun merasa perlu unuk mendirikan sebuah wadah dalam bentuk organisasi yang bisa menghimpun orang-orang yang sende dengan paham pembaruannya. Keinginan tersebut juga mendapat dukungan dari para santrinya dan dari pimpinan Boedi Oetomo lainnya, walaupun saat itu, dia telah menduduki jabatan penting di Boedi Oetomo. KH Ahmad Dahlan kemudian mendirikan organisasi Muhammadiyah. Selain ia sendin sebagai pimpinan, dibantu oleh pengurus lainnya seperti Abdulah Siradj (penghulu). H Ahmad, H Abdurahman R, H sarkawi, H Muhammad, RA Djailani, H Anis dan H Muhammad Fakih.
Badan hukum Muhammadiyah
Untuk memperkuat status hukum organisasi baru tersebut, Ahmad Dahlan meminta Rechtpersoon (Badan Hukum) kepada Gubernur Jenderal Belanda di Jakarta. Permintaan itu baru dikabulkan pada tanggal 22 Agustus 1914. dengan surat ketetapan No. 81 tertanggal 22 Agustus 1914. Dalam surat izin tersebut ditentukan bahwa Muhammadiyah di izinkan hanya untuk daearah Yogyakarta dan izin itu hanya berlaku selama 29 tahun.
Sewaktu Ahmad Dahlan, mendirikan Muhammadiyah, ia menghadapi banyak hambatan baik secara fisik maupun mental, yang datangnya dari masyarakat dan bahkan dari pihak keluarganya sendiri, berupa tuduhan fitnah dan berbagai hasutan kepadanya. Ada yang menuduh ia ingin mendirikan agama baru yang menyalahi agama Islam, ada pula yang menuduhnya kyai palsu atau kyai kafir. karena dia meniru cara-cara Barat, bahkan adapula yang ingin membunuhnya. Namun semua hambatan dan rintangan dia terima dengan sabar dan lapang dada. Sebab dia berkeyakinan bahwa apa yang dilakukanya adalah suatu kebenaran. Berdasarkan keyakinan itulah ia terus mengembangkan dakwah dan pendidikan yang disemangati oleh nilai-nilai pembaruan Islam melalui organisasi Muhammadiyah, sehingga organisasi ini bisa berkembang dengan pesat dan bisa diterima oleh masyarakat perkotaan dan menengah ke atas.
3 aspek penting organisasi
Muhammadiyah adalah organisasi modern yang lahir untuk merespon dan menjawab tantangan kemajuan zaman guna kemaslahatan umat Islam Indonesia. Ciri-ciriperjuangan Muhammadiyah, meliputi tiga aspek penting, yaitu;
- Pertama, Muhammadiyah sebagai gerakan Islam.
- Kedua. Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan
- Ketiga, Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid.
Keberhasilan itu tidak lepas dari peran KH Ahmad Dahlan, sebagai pendiri Muhammadiyah, yang telah meletakkan dasar-dasar institusi organisasi modern serta paham pembaruan Islam yang perlu untuk terus dikembangkan oleh generasi muda Muhammadiyah, sehingga ide pembaruan Islam tidak jalan di tempat. Berkat upayanya yang gigih pengaruh dan perannya di masyarakat, saat ini diperkirakan anggota Muhammadiyah di seluruh Indonesia berjumlah sekitar 30 juta orang.
Tokoh nasional
KH. Ahmad Dahlan sangat besar jasanya bagi nusa dan bangsa, melalu organisasi Muhammadiyah yang didirikannya, ia telah meletakkan dasar pendidikan modern di Indonesia yang telah banyak melahirkan sumber daya manusia yang cerdas dan beriman serta menjadi tokoh Nasional maupun pemimpin di negeri ini. Mantan Presiden Soeharto pun mengakui bahwa ia pernah dididik oleh sekolah Muhammadiyah. Demikian pula menurut Amin Rais. Bung Karno juga seorang Muhammadiyah. Organisasi ini telah ikut mengisi dan mewarnai jalannya pembangunan sosial, ekonomi, politik dan pendidikan bangsa Indonesia hingga saat ini. Ahmad Dahlan telah berhasil membentuk jiwa dan amal usaha Muhammadiyah, sehingga organisasi ini menduduki tempat terhormat, sebagai sebuah gerakan Islam modernis di Indonesia. Berdasarkan hasil-hasil perjungannya itulah, maka KH. Ahmad Dahlan sangat layak ditempatkan diurutan kedua setelah KH. Hasyim Asyari, sebagai tokoh Islam yang sangat berpengaruh di Indonesia.
Akhir hayat
Ahmad Dahlan, adalah tipe pejuang dan pekerja keras. Saat sakit menjelang akhir hayatnya ia tetap giat beramal untuk kemaslahatan masyarakat Islam melalui organisasi Muhammadiyah yang di pimpinnya. Ia tetap aktif di Muhammadiyah meskipun dokter melarangnya, hingga kemudian ajal menjemputnya tanggal 23 Februari 1923 dalam usia sekitar 55 tahun.
Sumber :
- Hamid, Shalahuddin, Ahza, Iskandar, 100 tokoh Islam paling berpengaruh di Indonesia, Intimedia, 2003