
(1908-1981 M)
Riwayat Hidup
Hamka dilahirkan di Sungai Batang Maninjau. Sumatera Barat, pada tanggal 17 Februan 1908/14 Muharram 1326. Nama lengkap beliau adalah Haji Abdul Malik bin Haji Abdul Karim Amrulah. Ayahnya adalah seorang ulama terkenal, Dr. H Abdul Karim Amrulah, alias Haji Rasul, pembawa paham pembaruan Islam Minangkabau yang sering disebut orang Kaum Muda. Ayah Buya Hamka dilahirkan di Maninjau (Sumatera Tengah) pada 17 Safar 1926 H/10 Februari 1879 M. Buya Hamka belajar ilmu fiqih dan tafsir Jalalain dari ayahnya Syeikh Amrullah dan Tuanku Sultan Muhammad Yusuf di sungai Rotan Pariaman.
Putra Syeikh Amrullah
Ayahnya, Syeikh Amrullah dikenal orang karena fatwanya tidak sama dengan para ulama terdahulu dan fatwa- fatwanya yang bernuansa modernis. Ia dibantu oleh Zainuddin Labai al-Yunusi keluaran madrasah Padang Panjang. Berbagai pendapat-pendapatnya yang masyur ialah membaca ushalli sebelum takbiratul ihram menurut adalah bidah karena tidak ada alasannya dari al-Quran atau Sunnah, bahkan imam vang empat tidak mengerjakannya. Dalam masalah ijtihad, menurutya ijtihad tidak terputus sampai hari Kiamat. Beliau juga menentang taqlid, berdiri pada waktu membaca marhaban, berfoto, bertopi, berdasi, berpantalon, puasa dengan hisab falaki dan lain-lain. Pemikiran-pemikirannya dituangkan dalam majalah Islam Munir bersama Syeikh H. Mohammad Thaib Umar dan Syeikh Ibrahim Musa Parabek. Karena keberanian itu timbullah kontroversi. Yang pro padanya adalah Syeikh H Abdullah Ahmad Padang. Syeikh Muhammad Jamil Jambek Bukit Tinggi, Syeikh Muhammad Thaib Umar Sungayang, Syeikh Abbas Abdullah Padang Japang, Syeikh Ibrahim Musa Parabek dan Zainuddin Labai al-Yunusi. Dan yang kontra padanya adalah Syeikh Said Mungka, Syeikh Khatib Ali Padsng, Tuanku Bayang dan lain-lain. Yang membuat kelompok muda dan kelompok tua.
Masa di Padang Panjang
Mewarisi ketekunan dan kebesaran ayahnya. Hamka belajar agama di sekolah Dinivah School dan Sumatera Thawalib di Padang Panjang dan di Parabek (1916-1923). Guru-gurunya waktu itu ialah Syeikh Ibrahim Musa Parabek. Engku Mudo Abdul Hamid dan Zainuddin Labai. Padang Panjang waktu itu ramai dikunjungi oleh para pelajar untuk belajar ilmu agama dibawah pimpinan ayah Hamka la sangat tekun belajar dan rajin membaca. Diasah otaknya untuk menyerap ilmu dan pengetahuan yang didapatnya dari berbagai buku yang dibacanya.
Hijrah ke Yogya
Tahun 1924, ia berangkat ke Yogya dan mulai mempelajari pergerakan Islam yang mulai marak. Hamka mengikuti kursus pergerakan Islam dari HOS Tjokroaminoto, H. Fachrudin, RM Suryopranoto dan iparnya sendiri Buya AR St Mansur yang pada waktu itu ada di Pekalongan. St. Mansyur berkata: “Dari kecil dalam diri Abdul Malik Karim Amrullah memang sudah ada tanda-tanda ia akan menjadi orang besar. Kata dan fikirannya selalu didengar oleh teman-teman sebayanya. menjadikan dia selalu menonjol dalam pergaulan. Amat disayangkan Aayah kami Dr. H. Amrullah tidaklah memahami hal itu, maka pada tahun 1925 saya berada di Pekalongan, Abdul Malik mengunjungi saya, maka mului tahun itu saya mendidik dan mengarahkannya, sehingga sekarang telah sama-sama kita temui seorang Profesor Doktor Hamka” Dalam usia 6 tahun dia dibawa ayahnya ke Padang Panjang dan usia 7 tahun dia masuk sekolah desa dan malamnya belajar mengaji al-Quran dengan ayahnya sendiri sampai khatam.
Kemasyhuran Hamka tidak hanya terdengar di nusantara tetapi juga telah menyeberang ke negeri jiran. la sering menghadiri undangan negara-negara tetangga Malaysia, Singapura dan Muangthai. Bahkan iapun diundang ke negara-negara Timur Tengah maupun Amerika Serikat.
Karya-Karyanya
Ketika tahun 1935 dia pulang ke Padang Panjang, bakat menulisnya mulai mpak dan la sangat produktif menulis Karya Tulis Hamka mencapai 113 buah buku lebih meliputi berbagai bidang, kesusasteraan, sejarah, otobiografi, politik, tasawuf dan agama. Buku-buku yang dikarangnya antara lain ;
- Tahun 1935 Khatibul Ummah
- Tahun 1927 dia berangkat ke Mekkah sambil menjadi koresponden Pelita As di Medan Pulang dari Mekkah dia menjadi penulis di majalah Seruan Islam, di Tanjung Pura
- Langkat dan pembantu dari Bintang Islam dan Suara Muhammadiyah Yogyakarta
- Tahun 1928, ia menerbitkan buku romannya yang pertama dalam bahasa Minangkabau dengan judul Si Subariah. Tahun itu juga ia memimpin majalah Kemajuan Zaman dan terbit hanya beberapa nomor
- Tahun 1929 ia mengarang Agama dan Perempuan. Pembela Islam (Taris Abubakar), Ringkasan Tarikh Ummat Islam, Adat Minangkabau dan Agama Islam, Kepentingan Tabligh dan ayat-ayat Mi’raj.
- Tahun 1930 ia menjadi penulis di Surat kabar Pembela Islam Bandung da mulai berkenalan dengan M. Natsir dan Ahmad Hassan dll. Tahun 1933 mengajar di Makassar dan sempat menerbitkan majalah Al Mahdi. Tahun itu juga bukunya Laila Majnun diterbitkan oleh Balai Pustaka.
- Tahun 1935 ia kembali ke Padang dan tahun 1936-1943 ia menerbitkan mingguan Islam yang cukup terkenal yaitu “Pedoman Masyarakat”
- Tahun 1943 saat Jepang masuk ke Indonesia. Hamka banyak menerbitkan buku dan karangannya dalam lapangan agama dan filsafat, tasawuf dan rou Antara lain karangannya yang sangat terkenal yaitu: Tenggelamnya Kapal Vanderwijck (1937). Dibawah Lindungan Kabah (1936). Merantau ke Deli (1940). Terusir, Keadilan Ilahi, dll.
- Karangannya di bidang agama dan filsafat yaitu diterbitkannya buku Tasawuf Modern, yang semula berasal dari artikel keagamaan di majalah Pedoman Masyarakat, Medan, Falsafat Hidup, Lembaga Hidup. Pedoman Muballigh Islam dll.
- Setelah pecah perang revolusi dia pindah ke Sumatera Barat dan menerbitkan buku-buku lainnya seperti Revolusi Pikiran, Revolusi Agama Adat Minangkabau, Menghadapi revolusi, Negara Islam, Sesudah Naskah Renville, Muhammadiyah Melalui Tiga Zaman, Dari Lembah Cita-Cita Merdeka, Islam dan Demokrasi (1946).
- Pada tahun 1950 Hamka pindah ke Jakarta, dan menerbitkan karangannya yaitu: Avahkar (1950), Kenang-Kenangan Hidup, Perkembangan Tasawuf dari abad ke abad, Riwayat Pejalanan ke Negeri-Negeri Islam. Di Tepi Sungai Nil, Ditepi Sungai Dajlah, Mandi Cahaya Di Tanah Suci dan Empat Bulan di Amerika.
- Tahun 1955 terbit bukunya Pelajaran Agama Islam (1956). Panduan Hidup Muslim, Sejarah Hidup Jamaluddin al-Afghani (1965) dan Sejarah Umat Islam.
- Pada tahun 1962 Hamka mulai menafsirkan Tafsir Al-Azhar. Buku ini terdiri dari 30 jilid sesuai dengan jumlah al-Quran. Tafsir ini sebagian besar ia selesaikan ketika di penjara selama dua tahun tujuh bulan yang dirampungan pada tahun 1969.
Prestasi dan Penghargaan
Keberhasilan Buya Hamka terbilang cukup besar, kiprahnya di pentas nasional maupun internasional telah dibuktikannya sebagai baktinya kepada ibu pertiwi yang membesarkannya. Nama besar Buya Hamka dapat dilihat misalnya dari deretan nama Al-Azhar yang melebar dari utara sampai selatan Jakarta. Bahkan ia mampu meletakkan regenerasi untuk melanjutkan cita-citanya. Al-Azhar di Indonesia menjadi simbol bagi kemasyhurannya. Konon nama ini diberikan oleh Mohammad Syaltut Guru Besar Al-Azhar Mesir ketika peresmian masjid Al-Azhar Kebayoran Baru. Langkah tersebut di kemudian hari telah memunculkan puluhan Al-Azhar yang melingkari Jakarta. Tetapi keberhasilan Buya Hamka shagaimana akan dipaparkan adalah daya intelektualitas dan kepiawaiannya dalam berdakwah, bakat menulis dan kemampuannya merekatkan antar golongan di Indonesia.
Keturunan Tionghoa
Dimasa-masa terakhir hidupnya, Buya Hamka bertindak sebagai penganjur asimilasi etnis, yang terutama ditujukan kepada warga masyarakat keturunan Cina. Sudah tampak hasilnya sedikit banyak, walaupun tidak begitu spektakuler karena pendeknya waktu bagi Buya Hamka untuk melakukannya. Rekaman kesan-kesan warga masyarakat dari keturunan Cina itu, ada yang dimasukkan dalam tulisan yang dimuat dalam buku tentang Buya Hamka, memperlihatkan bagaimana dengan pendekatan kemanusiaannya. Buya Hamka telah sanggup menumbuhkan benih- benih tali persaudaraan dalam diri mereka. Kembali terlihat betapa dengan kemampuan mengkombinasikan antara cara-cara bergaul konvensional dan pendekatan yang tidak konvensional semisal mengambil beberapa orang di antara mereka sebagai anak angkat.
Panji Masyarakat
Buya Hamka melakukan hal-hal yang cukup berarti bagi integrasi nasional yang penuh di kemudian hari. Hal penting pula adalah buya Hamka telah berhasil menjadi pembimbing bagi mereka yang masuk Islam atau kembali ke dalam pangkuan Islam. Berkat upayanya ia berhasil menyeberangkan ratusan atau bahkan ribuan orang kepada ideal Islam Dan Peristiwa-peristiwa tersebut direkam secara baik oleh Panji Masyarakat.
Dalam kalimat sederhana, letak kebesaran Buya Hamka adalah mannya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu bermanfaat bagi la menghargai manusia lain sebagaimana ia menghargai dirinya.
Buya Hamka adalah seorang optimistis karena ia percaya bahwa semua orang pada sasarnya baik dan punya kemungkinan untuk menjadi lebih baik. Dengan modal itu pula ia mampu memperkenalkan dunia agama kepada dunia sastra, sehingga keduanya merasa akrab, melalui karya roman dan cerita pendek yang ditulisnya di masa muda.
Mundur dari MUI
Dengan berpegang pada prinsip tersebut ia juga bersikap untuk berbuat apa adanya tanpa harus takut kepada siapapun. Sikap tegas dalam mempertahan sikap dan prinsip terbukti saat ia mundur dari ketua MUI karena tetap mempertahankan fatwa haram menghadiri natal bersama bagi umat Islam. Kian lama kepiawaiannya sebagai pengarang, pujangga dan filosuf Islam semakin diakui orang. Karena Keluasan ilmunya itulah, dia diangkat pemerintah menjadi anggota Badan Pertimbangan Kebudayaan dari kementerian PP dan K dan menjadi guru besar pada perguruan Tinggi Islam dan Universitas Islam di Makassar serta menjadi penasehat di kementerian Agama RI.
Disamping mempelajari kesusasteraan Melayu klasik. Hamka juga bersungguh sunggeh mempelajari kesusasteraan Arab, karena ia memang menguasai bahasa Arab dengan baik. Sehingga Slamet Mulyana, pengamat sastra Indonesia menyeba Hamka sebagai Hamzah Fansuri Zaman Baru.
Doctor Honoris Causa
Karena menghargai jasa-jasanya dalam penyiaran Islam dengan bahas Indonesia yang baik dan Indah, maka pada tanggal 10 Maret 1959. Majelis Tinggi Universitas Al-Azhar Cairo, memberikan gelar Doctor Honoris Causa (Ustaziyah Farakhriyah) pada Hamka. Selain itu Hamka juga mendapat gelar yang sama (DR dari universitas Kebangsaan Malaysia di bidang kesusastraan, pada 8 Juni 1974 Sebelumnya ia diangkat sebagai Profesor Kehormatan oleh Universitas Prof. D Moestopo pada 17 Mei 1966. Dalam suratnya kepada Solihin Salam (1990:392) ia berkata: “Ananda tahu bahwa saya tidak sekolah! Hanya kekerasan hati da penderitaan-penderitaan sajalah yang mengantar saya sampai dapat pengakuan Universitas yang paling tua di dunia”.
Masa Tua
Pada masa tuanya Hamka banyak berdakwah memberikan siraman rohani keagamaan kepada umat terutama di masjid Al-Azhar, kebayoran Jakarta Selatan. Dakwahnya yang dibawakannya sangat sejuk, menentramkan hati jamaahnya. Ia juga mengajarkan cara mengarang kepada para pemuda di masjid Al-Azhar. Pemahaman keagamaannya yang mendalam membuat beliau menjadi lebih “moderat” dibandingkan ulama Muhammadiyah lainnya. Ketika memimpin shalat Shubuh dalam perjalanan haji melalui kapal laut, beliau membaca qunut, karena menghargai mamkmumnya dari NU dan sebaliknya ketika giliran tokoh NU, Idham Chalid yang bertindak sebagai imam, sang tokohpun tidak membaca qunut, karena menghargai makmumnya yang Muhammadiyah. Toleransi mazhab seperti ini perlu dikembangkan untuk menjalin kebersamaan dan toleransi internal umat Islam. Itulah sosok ulama besar sekaligus pengarang yang sangat besar pengaruhnya bagi umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.
Wafat
Beliau wafat pada tanggal 24 Juli 1981 di Jakarta dan meninggalkan sepuluh orang anak (tujuh laki-laki dan tiga perempuan.
Sepeninggalnya muncullah simpati untuk mengkaji ulang pikiran-pikir Hamka. Sebagai misal, LIPI telah menyelenggarakan Seminar dengan tema “HAMKA sebagai seorang Figur dalam Sejarah Indonesia”, pembicara utama adalah Prof. James R. Rush, dari Yale University, USA pada 11 November 198 di Jakarta. Pembahasan jujur dan ilmiah terhadap Hamka dituturkan secara lugas dan terbuka dalam buku “Hamka di Mata Hati Umat” Buku ini memuat berbagai unggapan tokoh terhadap prestasi Hamka selama hidupnya. Ini merupakan ungkapan jujur dari para anak bangsa yang pada ujungnya mengharapkan kelanjutan Hamka baru yang memberi warna dalam sejarah Indonesia. Kemudian banyak lagi bermunculan tesis maupun skripsi tentang dirinya dari IAIN Syarif Hidayatullah, Universitas Indonesia, Universitas as-Syafiiyah dan sebagainya.
Sumber :
- Hamid, Shalahuddin, Ahza, Iskandar, 100 tokoh Islam paling berpengaruh di Indonesia, Intimedia, 2003