
Pernah lihat uang kertas Rp 5.000? Di sana, ada wajah seorang pahlawan nasional dengan sorban di kepala. Beliau adalah Tuanku Imam Bonjol, seorang ulama sekaligus panglima perang yang legendaris dari tanah Minangkabau.
Bukan cuma wajahnya yang gagah, kisahnya juga sangat menarik. Beliau bukan hanya melawan penjajah Belanda, tetapi juga memimpin sebuah gerakan besar yang mengubah sejarah Sumatera Barat. Yuk, kita kenalan lebih dekat dengan sosok hebat ini!
Dari Muhammad Syahab Menjadi Tuanku Imam Bonjol
Pahlawan kita ini lahir di Bonjol, Sumatera Barat, sekitar tahun 1772. Nama aslinya adalah Muhammad Syahab. Ayahnya, Khatib Bayanuddin, adalah seorang ulama, jadi Muhammad Syahab sudah akrab dengan ilmu agama sejak kecil.
Setelah dewasa dan mendalami ilmu agama hingga mendapat gelar Malin Basa (yang artinya ulama besar), kehidupan Muhammad Syahab mulai berubah. Pada awal tahun 1800-an, di Minangkabau muncul gerakan ulama yang ingin memurnikan ajaran Islam. Kelompok ini dikenal sebagai Kaum Padri.
Muhammad Syahab, yang sepemikiran dengan gerakan ini, ditunjuk oleh pemimpin Kaum Padri saat itu, Tuanku nan Renceh, untuk menjadi Imam (pemimpin) di wilayah Bonjol. Sejak saat itu, namanya dikenal sebagai Tuanku Imam Bonjol.
Perang Padri: Awalnya Perang Saudara, Akhirnya Melawan Belanda
Perjuangan Tuanku Imam Bonjol dimulai dari sebuah konflik internal di Minangkabau, yang dikenal sebagai Perang Padri (1803-1838).
Awalnya, perang ini adalah pertentangan antara:
- Kaum Padri (Ulama): Kelompok yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol. Mereka ingin menegakkan syariat Islam secara murni.
- Kaum Adat: Kelompok bangsawan dan pemangku adat yang merasa tradisi mereka diganggu oleh gerakan Padri.
Namun, Kaum Adat malah meminta bantuan kepada Belanda pada tahun 1821. Keputusan ini menjadi blunder besar! Belanda tentu saja setuju, tapi dengan motif terselubung: menguasai seluruh wilayah Minangkabau.
Melihat niat jahat Belanda yang hanya ingin menjajah, Kaum Adat akhirnya sadar. Mereka pun berbalik dan bersatu dengan Kaum Padri yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol. Sejak saat itu, Perang Padri berubah total menjadi perang suci melawan penjajah Belanda!
Benteng Bonjol dan Semangat Jihad
Sebagai pemimpin perang, Tuanku Imam Bonjol menunjukkan kemampuan yang luar biasa. Ia adalah ulama yang juga ahli strategi perang. Ia membangun Benteng Bonjol yang sangat kuat di atas bukit, membuatnya sulit ditembus oleh pasukan Belanda yang bersenjata modern.
Dengan semangat jihad (perjuangan di jalan Allah), ia berhasil membangkitkan semangat perlawanan rakyat. Meskipun pasukan Belanda berkali-kali mencoba, Benteng Bonjol bertahan dengan gigih selama bertahun-tahun. Perjuangan ini membuat Belanda kewalahan dan terpaksa melakukan perjanjian damai yang terus dilanggar oleh mereka sendiri.
Sayangnya, kegigihan Bonjol akhirnya harus berakhir. Pada tahun 1837, setelah melalui pengepungan yang sangat lama dan serangan bertubi-tubi, benteng legendaris ini jatuh ke tangan Belanda. Tuanku Imam Bonjol ditangkap, tetapi semangatnya tidak pernah padam.
Akhir Hidup Sang Pahlawan di Tanah Pengasingan
Setelah ditangkap, perjuangan Tuanku Imam Bonjol berakhir di meja perundingan dan pengasingan. Ia sempat diasingkan ke Cianjur (Jawa Barat), lalu dipindahkan lagi ke Ambon, dan terakhir ke Lotta, Minahasa, dekat Manado.
Di tempat pengasingan yang sangat jauh dari kampung halamannya inilah, Tuanku Imam Bonjol meninggal dunia pada tanggal 8 November 1864 di usia 92 tahun dan dimakamkan di sana.
Meskipun wafat di pengasingan, jasa-jasanya diakui abadi. Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1973.
Kenapa Tuanku Imam Bonjol Selalu Penting?
- Lambang Persatuan: Ia berhasil menyatukan dua kubu yang awalnya bertikai (Kaum Adat dan Kaum Padri) untuk melawan musuh bersama (Belanda).
- Tokoh Pemurnian Islam: Jauh sebelum melawan Belanda, beliau adalah tokoh yang gigih ingin membersihkan ajaran Islam dari hal-hal yang tidak sesuai.
- Wajah di Uang Kertas: Sosoknya di uang Rp 5.000 adalah pengingat abadi bagi kita semua tentang semangat juang yang tak pernah padam.
Kisah Tuanku Imam Bonjol mengajarkan kita bahwa keberanian dan keteguhan hati seorang pemimpin dapat menginspirasi seluruh rakyat untuk berjuang demi keyakinan dan tanah air, meskipun harus menghadapi kekuatan besar sekalipun.